Mahasiswa Difabel 'Berjaya' di Kompetisi Desain Mobil Listrik

Patricia Vicka 16 Maret 2018 19:48 WIB
penghargaan
Mahasiswa Difabel Berjaya di Kompetisi Desain Mobil Listrik
Muhammad Fahmi Husein, mahasiswa UGM, berkebutuhan khusus yang menerima penghargaan desain mobil listrik, dok: humas UGM
Yogyakarta:Keterbatasan fisik tak melunturkan semangat Muhammad Fahmi Husein, mahasiswa prodi Komputer dan Sistem Informasi Sekolah Vokasi (SV) Universitas Gajah Mada (UGM), untuk berprestasi. Pria yang lumpuh kaki karena mengidap penyakit kelainan otot ini menerima penghargaan desain terbaik pada kompetisi Electric Car Design Contest 2018.

Kompetisi Electric Car Design Contest 2018 diselenggarakan oleh Muscle Car Indonesia (MCI). Tahun ini kontes mengusung tema mobil roadster yang merupakan mobil atap terbuka. Dalam kompetisi ini, Fahmi menerima penghargaan bersama 4 finalis lainnya. Ia merancang desain mobil listrik yang dinamis dan elegan. Mobil ini berbentuk seperti mobil sport dengan atap yang bisa dibuka tutup secara otomatis.


“Konsep desain mobil listrik saya adalah dynamic dan elegant dimana bentuk mobil dinamis memaksimalkan aliran angin untuk meningkatkan pengendalian namun tetap memiliki desain yang simple,” ujarnya,di gedung Sekolah Vokasi UGM Yogyakarta,  Kamis 15 maret 2018.

Fahmi bercerita ia membuat sketsa desain mobil yang akan dilombakan di atas kertas putih. Kemudian ia kembangkan gambar itu dalam bentuk 3D di komputer.  Lantas sketsa yang sudah dibuat diproyeksikan ke blueprint dengan tampilan depan, samping dan atas sebagai panduan untuk membuat model 3D.

"Untuk membuat sketsa mobil 3D saya menggunakan software Adobe Illustrator, Autodesk Alias, Solidworks dan Keyshot," jelas Fahmi.

Dengan kondisi tubuh yang tidak sekuat mahasiswa pada umumnya, Fahmi mampu menyelesaikan design ini dalam waktu sekitar tiga minggu. Bagi mahasiswa dengan kondisi tubuh sempurna, waktu tiga minggu adalah waktu standar penyelesaian. Namun bagi Fahmi yang difabel, perlu usaha ekstra dan kerja keras untuk bisa menyelesaikannya.

“Setiap hari saya lembur dari pagi sampai malam untuk mengerjakan ini,” tutur mahasiswa angkatan 2016 ini.

Sejak kecil, Fahmi menderita menderita penyakit kelainan otot, Duchne Muscular Distropy (DMD). Penyakit ini diturunkan dari sang ayah yang juga mengidap DMD. Mutasi gen pada jaringan otot menjadikan kekuatan ototnya tidak maksimal dan perlahan melemah. 

Fahmi tidak bisa berjalan lagi sejak kelas 4 SD. Ia menggantungkan hidupnya pada kursi roda untuk beraktifitas. Ia juga harus didampingi satu orang asisten yang membantunya mendorong kursi roda kemana-mana atau membantunya saat naik turun mobil. Sementara otot lainya seperti otot tangan walau melemah namun masih bisa digerakkan secara terbatas.

Namun penyakit tersebut tidak lantas menghambat keinginan putera dari Anik Marwati dan Murtandlo ini untuk beraktivitas dan berprestasi. Sejak bangku SMP Fahmi aktif mengikuti berbagai lomba dan berhasil mendapatkan juara tiga di gelaran Indonesia ICT Award 2010. Selanjutnya meraih medali perak di Olimpiade Sains Nasional (OSN) Difabel 2015 dan telah memiliki buku tentang desain mobil 3D.


(Mobil listrik yang didesain Muhammad Fahmi, mahasiswa UGM berkebutuhan khusus, dok: humas UGM)


Fahmi mengaku sempat depresi dan terpuruk meratapi penyakitnya. Pasalnya penyakit ini membuatnya sulit bergerak dan beraktifitas. Ia juga ragu mewujudkan impiannya dengan fisik yang terbatas. Namun ia tak menyerah untuk menyemangati dirinya. keluarganya pun tak pernah habis memberi dukungan dan perhatian kepada sulung empat bersaudara ini.

Perlahan, Fahmi bangkit dan bertekad untuk menorehkan prestasi. Penghargaan demi pernghargaan yang ia terima kini menjadi bukti penyakit tidak menghambat dan membatasi dirinya untuk terus berkreasi dan berprestasi.

"Jangan takut dengan keterbatasan, jangan takut berkarya dan lakukan yang bisa dilakukan ,”tutur pria yang bercita-cita menjadi enterpreneur. 

Ke depan pria yang tinggal di Dadapan, Wonokerto, Turi, Sleman ini berkeinginan merancang sketsa dan mengembangkan desain mobil yang ramah bagi penyandang disabilitas.

Sang ibu, Anik Marwati, selalu mendukung segala aktivitas yang dijalani oleh putera sulungnya itu. Dia pun terus mendorong Fahmi untuk tetap semangat menjalani hidup dan terus berkarya melakukan hal-hal yang dapat dilakukan.  

Ketiga adik Fahmi lainnya turut terkena penyakit DMD. Putera nomor dua juga sudah harus menggunakan kursi roda akibat penyakit serupa dengan yang diderita Fahmi. Pun dengan putera bungsunya juga telah menunjukkan gejala-gejala terkena DMD.

Namun Anik Marwati tak pernah berhenti menyemangati seluruh putranya untuk meraih impian dan menorehkan prestasi.



(RRN)