Jakarta: Keterbatasan ekonomi kerap menjadi jurang pemisah bagi anak-anak untuk meraih akses pendidikan tambahan yang layak, termasuk menguasai bahasa asing. Namun, kepedulian sekecil apa pun dari anak muda ternyata bisa mendobrak batasan tersebut.
Inilah yang dibuktikan lewat kehadiran Gema Ilmu, sebuah inisiatif sosial di kawasan Leuwinanggung, Tapos, Depok. Berdiri pada Juli 2025, komunitas ini diinisiasi oleh dua pelajar, Naila Adelin Faiha dan Co-Founder Akhdan Vemrichi Utama.
Menariknya, gerakan sosial ini lahir dari sebuah momen yang menguras emosi. Naila tak sengaja mendengar asisten rumah tangga (ART) yang telah bekerja 19 tahun di keluarganya menangis tersedu.
Sang ART merasa pilu karena gajinya tak cukup untuk membiayai impian putrinya les bahasa Inggris. “Percakapan itu membuat saya menyadari bahwa ada anak-anak di sekitar saya yang ingin belajar tetapi tidak memiliki akses ke kesempatan yang sama seperti yang saya miliki,” kata Naila dalam siaran persnya, di Jakarta, Senin, 31 Agustus 2026
Berangkat dari keresahan tersebut, Naila dan Akhdan menyulap empati menjadi aksi nyata. Mereka memfasilitasi anak-anak sekitar untuk belajar bahasa Inggris secara cuma-cuma alias gratis. Kelas ini biasa digelar langsung di lingkungan tempat tinggal warga pada Minggu pagi, dengan bantuan para pengajar sukarelawan yang mayoritas juga masih pelajar.
“Seminggu sekali kalau libur, tapi kalau kita juga lagi sekolah, dua minggu sekali,” ujar Naila.
Kini, langkah kecil tersebut telah membesar dengan bergabungnya sekitar 30 relawan pengajar. Mereka secara bergantian membagikan ilmu sesuai ketersediaan waktu. Sebagai perintis, Akhdan pun memiliki pengalaman unik saat harus berhadapan langsung dengan puluhan anak di awal mengajar.
“Gugup pasti ada awal-awalnya. Tapi karena semakin lama semakin kenal sama murid-muridnya, ya kita mulai hilang rasa gugupnya,” tutur Akhdan.
Seiring waktu, kedekatan yang terbangun membuat interaksi di kelas tak ubahnya seperti teman asyik tempat bermain dan belajar. Antusiasme anak-anak inilah yang menjadi bayaran termahal bagi dedikasi Naila dan kawan-kawan.
“Yang paling menyenangkan itu ketika melihat senyuman mereka dan antusiasme mereka untuk mau belajar bahasa Inggris,” ujarnya.
Tentu saja, mempertahankan semangat relawan dan murid bukan tanpa kendala. Menjaga mood anak-anak dengan karakter yang beragam menuntut para pengajar muda ini untuk terus putar otak menciptakan metode belajar yang tidak garing.
Akhdan dan tim harus rutin menyiapkan materi segar agar kelas tidak monoton, terutama bagi anak-anak yang masih pemalu. “Tantangannya paling setiap anak berbeda-beda cara mereka pahami sesuatu dan cara mereka belajar. Kita sebagai guru mesti bisa adaptasi dengan mereka, gimana caranya mereka tetap mau belajar tanpa merasa boring atau bosan,” kata Naila.
Ke depan, Gema Ilmu menolak untuk berpuas diri hanya beroperasi di wilayah Depok. Mereka menargetkan struktur organisasi yang lebih matang agar sayap pendidikan gratis ini bisa menjangkau wilayah yang lebih luas.
“Insyaallah bisa expand ke city-city lain dan bisa menjangkau anak-anak Indonesia yang lain yang juga pengen belajar bahasa Inggris cuma tidak punya uang untuk bayar les atau guru privat semacamnya,” ujar Naila.
Melalui Gema Ilmu, Gen Z membuktikan bahwa kemauan untuk berbagi mampu menjadi jembatan agar generasi muda Indonesia, dari latar belakang apa pun, punya pijakan yang setara untuk terus berkembang.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan