Rektor kelima UNAIR, Prof. R. Kwari Setjadbrata, dr. Sp.A. Foto: Dok. UNAIR
Rektor kelima UNAIR, Prof. R. Kwari Setjadbrata, dr. Sp.A. Foto: Dok. UNAIR

Profesor Kwari, Intelektual Indonesia Pertama yang 'Menginjakkan Kaki' di Harvard

Pendidikan Pendidikan Tinggi Perguruan Tinggi UNAIR
Citra Larasati • 21 Januari 2021 14:32
Jakarta:  Tepat 47 tahun yang lalu, Universitas Airlangga (UNAIR) sempat dipimpin oleh seorang cendekiawan hebat bernama Prof. R. Kwari Setjadbrata, dr. Sp.A.  Ia adalah seorang dokter lulusan ARTS Universitas Indonesia (UI) tahun 1948 dan intelektual pertama yang 'menginjakkan kaki' di Harvard University.
 
Meski namanya terdengar asing, Rektor UNAIR kelima itu adalah salah satu putra bangsa yang membanggakan. Dikutip dari laman Unair, sembilan tahun setelah Indonesia merdeka, ketika kalangan terdidik masih didominasi oleh para ahli hukum, pengacara, dan insinyur.
 
Sebut saja Mr. Soepomo, Mr. Moh Roem, dan Presiden Soekarno. Nama dr. Kwari Satjadibrata cukup tersohor mewakili kalangan dokter kala itu.  Setelah lulus sebagai sarjana kedokteran, laki-laki kelahiran Serang 21 Januari 1920 itu mengambil Spesialis Ilmu Penyakit Anak di UI, tepatnya pada tahun 1954.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pada tahun itu pula, Kwari bertolak ke Amerika untuk melanjutkan studi di Harvard School of Public Health. Selama dua tahun di Harvard, ia mendapat dukungan dari Foreign Office Affairs dan Eisenhower Fellowship.
 
Ini tentu bukan pencapaian kecil pada masa itu. Terlebih lagi Kwari adalah orang Indonesia pertama yang menapakkan kaki di Harvard.  Seperti yang lekat dalam ingatan Sidrotun Naim, mahasiswa doktoral di Harvard Medical School angkatan 2013.
 
“Beliau sempat bercerita kepada dr. Darti Satjadibrata, putri beliau, mengenai bagaimana rekan-rekannya di Harvard sangat penasaran dengan Indonesia. Banyak sekali hal yang ditanyakan,” ujarnya selama pidato pembukaan Harvard Aspire #1 pada 17 Agustus 2020 lalu.
 
Baca juga:  Cerita Qinthara, Mahasiswi S2 Termuda ITB Berusia 19 Tahun
 
Sepulang dari Harvard, pada tahun 1956, Kwari diangkat menjadi Asisten Ahli Golongan FII di Fakultas Kedokteran (FK) UI. Empat tahun setelahnya, ia naik jabatan sebagai Kepala Golongan FVI di FK UI.
 
Hingga pada 1964, ia resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran (FK) UNAIR dan berpindah kerja dari UI ke UNAIR.  Di UNAIR, Kwari mengemban jabatan baru sebagai Kepala Bagian Penyakit Anak di FK UNAIR.
 
Dengan jabatan tersebut, ia ditugaskan untuk menginisiasi program pediatri (Spesialis anak) di UNAIR.  Pada tahun 1969 hingga 1974, Kwari diangkat sebagai Pembantu Rektor Khusus Bidang Pembangunan di UNAIR. Kwari dikenal memiliki semangat yang tinggi dan menjadi sosok pionir penggerak.
 
Kecintaan dan kegigihan Kwari terhadap ilmu pengetahuan membawanya mencapai puncak karier sebagai Rektor UNAIR pada tahun 1974. “Kolega dan sahabat baik saya serta alumni dan dosen UNAIR mengatakan bahwa sebagai pimpinan universitas, peran Prof. Kwari sangat besar,” ungkap Sidrotun Naim.
 
Namun sayang, masa pengabdian Kwari kala itu sangat singkat. Pada tahun 1975, tepat satu tahun ia menjabat sebagai Rektor UNAIR, Kwari tutup usia. Dia dinyatakan meninggal dunia karena gangguan kesehatan.
 
Saat itu kabar kepergiaannya cukup mengejutkan. Ia meninggalkan istri dan empat orang anak.
Hari ini, tanggal 21 Januari, adalah hari kelahiran Kwari. Sekiranya masih hidup, ia kini genap berusia 101 tahun.
 
Semasa hidup, Kwari mendedikasikan diri sepenuhnya pada ilmu pengetahuan. Jiwa kepeloporannya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan akan selalu menjadi warisan yang sangat berharga. 
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif