Rusli, saat belajar daring menggunakan fasilitas di sekolah. Medcom.id/Muhammad Syawaluddin
Rusli, saat belajar daring menggunakan fasilitas di sekolah. Medcom.id/Muhammad Syawaluddin

Tak Punya Gawai, Rusli Terpaksa Belajar Daring di Sekolah

Pendidikan Virus Korona Pembelajaran Daring
Muhammad Syawaluddin • 05 Agustus 2020 15:02
Makassar: Rusli, 12 tahun, siswa SMP Negeri 27 Makassar sudah berada di sekolahnya sejak pukul 07.30 Wita atau setengah jam sebelum jam pelajaran dimulai. Anak kedua dari lima bersaudara itu terpaksa ke sekolah, meski pemerintah mengeluarkan kebijakan belajar dari rumah di tengah wabah virus korona.
 
Rusli sejak dua hari terakhir datang bersama orang tuanya untuk ikut dalam proses pembelajaran secara daring dengan menggunakan fasilitas sekolah. Sebab orang tuanya tidak memiliki biaya untuk membeli gawai dan ikut belajar daring seperti teman-temannya.
 
"Iya Rusli tidak memiliki telepon genggam," kata, salah satu guru bagian Kesiswaan dan Humas SMP Negeri 27 Makassar, Naston saat ditemui di kantornya, di Tamalate, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu, 5 Agustus 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca juga:Mahasiswa UNS Inisiasi Rumah Belajar Gratis
 
Menurut Naston, pihak sekolah pada dasarnya enggan memberikan izin, lantaran saat ini kebijakan terkait balajar secara daring masih berlaku. Namun, melihat kondisi dan semangat Rusli, yang ingin belajar, akhirnya pihak sekolah pun mengizinkan Rusli untuk belajar daring di sekolah.
 
"Kami memang sempat tidak mengizinkan karena ada aturan untuk itu. Tapi, karena melihat kondisi dan kesepakatan bersama akhirnya kami izinkan," jelasnya.
 
Apalagi kata Naston, anak pasangan dari Rusni dan Rudi itu lulus melalui jalur nonzonasi yakni afirmasi atau jalur bagi siswa dari keluarga kurang mampu. Sehingga, untuk membeli telepon genggam atau pun gawai memang orang tua Rusli tidaklah mampu.
 
Rusli merupakan satu dari 300 siswa baru yang ada di SMP Negeri 27 Makassar. Rusli masuk dalam 30 persen siswa yang diterima melalui jalur nonzonasi.
 
"Sebenarnya ada banyak yang mengeluh baik soal gadget maupun penggunaan kuota saat belajar daring. Tapi, baru Rusli yang datang menghadap," jelasnya lagi.
 
Ibu Rusli, Rusni Dg Baji mengatakan, bahwa dirinya mengambil keputusan untuk membawa anaknya ke sekolah karena tidak memiliki biaya membeli gawai untuk anak kedua dari lima bersaudara itu. Apalagi, pekerjaan suaminya hanyalah seorang buruh harian.
 
"Saya tidak punya uang untuk membelikan Rusli telepon genggam. Makanya Saya datang menghadap ke pihak sekolah," ujarnya.
 
Rusni menjelaskan, sebelumnya Rusli belajar bersama dengan temannya yang tinggal dekat rumah mereka di Jalan Tanggul Patompo, Kecamatan Tamalate, Makassar. Hanya saja, setelah pembagian kelas, Rusli tidak sekelas dengan temannya itu, sehingga tidak lagi memiliki fasilitas untuk ikut belajar.

 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif