Ilustrasi. Foto: MI/Angga Yuniar
Ilustrasi. Foto: MI/Angga Yuniar

Menyambi 'Setrika' di Penatu, Kini Jadi Wisudawati Terbaik IPB

Pendidikan Pendidikan Tinggi Wisuda
Antara • 15 Januari 2020 14:57
Bogor: Spirlee Anesta Sanas, mahasiswi yang pernah melakoni kerja paruh waktu sebagai tenaga penyetrika di penatu (laundry) ini berhasil memetik buah kerja kerasnya. Hari ini, Rabu, 15 Januari 2020 ia dinobatkan sebagai Wisudawati Terbaik pada upacara wisuda IPB University di Bogor.
 
Spirlee diterima di IPB melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) pada 2015 lalu. Ia meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,78 dan berhasil menyandang predikat Cum laude.
 
Alumni SMAN 1 Madiun, Jawa Timur ini bercerita, banyak perjuangan yang dilaluinya untuk menyelesaikan kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan IPB University. Di antaranya harus pandai membagi waktu antara menyelesaikan skripsi dan bekerja.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Karena kendala keuangan dari keluarga pada saat akhir studi, membuat saya harus bekerja paruh waktu untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan biaya kuliah," katanya.
 
Berbagai jenis pekerjaan paruh waktu pernah dijalaninya. Mulai dari magang di klinik, menjadi agen pemasaran, berjualan roti, hingga bekerja sebagai tenaga penyetrika di tempat laundry
pernah dilakoninya sembari menyusun skripsi.
 
Spirlee bercerita, selama kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan IPB, dirinya menyadari bahwa profesi dokter hewan memiliki peransangat strategis guna mewujudkan kesehatan hewan yang berdampak pada kesehatan lingkungan. "Bagi saya, ilmu kedokteran hewan benar-benar
menuntut kemampuan praktik dalam menangani kesehatan hewan," katanya.
 
Spirlee bekerja paruh waktu, semula untuk menutupi kekurangan biaya tempat tinggal atau kos di sekitar kampus. Awalnya ia bekerja paruh waktu sebagai penjaga toko roti setiap sore dengan upah 750 ribu rupiah per bulan.
 
Spirlee juga pernah bekerja di tempat usaha laundry sebagai penyetrika merangkap kasir. "Alhamdulillah saya berhasil lulus pada 9 Juli 2019, dua minggu sebelum pembayaran uang kuliah tunggal (UKT) semester 9," ujarnya.
 
Pada libur semester genap Juni-Juli 2019, serta lebaran pada 5 dan 6 Juni 2019, Spirlee memilih tidak mudik ke kampungnya di Madiun. Melainkan mengejar target menyelesaikan skripsi hingga ujian sarjana.
 
"Pada waktu libur itu,sambil mengerjakan skripsi saya juga bekerja paruh waktu di klinik untuk
anak-anak autis. Hasilnya, lumayan untuk menambah biaya hidup," ungkapnya.
 
Spirlee yang diwisuda pada hari ini, telah menjadi kebanggaan keluarganya, karena dia berhasil menjadi sarjana meski keluarganya hidup sederhana. "Orang tua saya dulu pernah kuliah, tapi tidak selesai, karena kesulitan biaya," tambahnya.
 
Spirlee juga mengucapkan terima kasih kepada orang tua, yang terus bertekad membiayai kuliah dirinya di IPB, meskipun setiap pergantian semester harus meminjam uang sana sini untuk biaya SPP.
 
Saat ini Spirlee bekerja di sebuah perusahaan swasta. Ia bertekad mengumpulkan biaya untuk menyelesaikan pendidikan profesi kedokteran hewan.
 
Spirlee juga bekerja di klinik autis yang bertugas memberikan terapi anak-anak autis agar
dapat melakukan aktivitas sesuai dengan standar yang ada di masyarakat. "Bekerja di klinik autis, saya mengambil hikmahnya karena dapat melatih kesabaran,"katanya.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif