Septifa Leliano Ceria menjalani Ramadan di Canberra, Australia. Foto: Istimewa.
Septifa Leliano Ceria menjalani Ramadan di Canberra, Australia. Foto: Istimewa.

Cerita Mahasiswi Indonesia Menjalani Ramadan di Australia

Pendidikan kucing Pendidikan Tinggi Perguruan Tinggi Ramadan 2021
Daviq Umar Al Faruq • 06 Mei 2021 09:09
?Australia: Menjalani bulan Ramadan di luar negeri menjadi pengalaman tak terlupakan bagi Septifa Leliano Ceria. Wanita asal Bandar Lampung, Lampung, tersebut kini tengah menjalani puasa Ramadan di Canberra, Australia.
 
Salah satu hal yang menarik menjalani ibadah puasa di luar negeri adalah perbedaan durasinya. Setiap negara memiliki panjang puasa yang berbeda, berdasarkan lokasi dan waktu salatnya.
 
Ano sapaan akrabnya, menjalani Ramadan di Australia lantaran tengah menyelesaikan pendidikan magister di bidang Islamic Studies di Australia National University (ANU). Sebelumnya, ia merupakan lulusan Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ano mengaku, perbedaan waktu puasa di Indonesia dan Australia yakni tiga jam. Di negeri kangguru ini durasi puasa yang harus dilewati adalah 11 hingga 12 jam. Durasi puasa akan semakin pendek jika sudah memasuki musim dingin.
 
“Sebenarnya, di sini puasanya memang lebih pendek, tapi tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Lebih cepat Canberra satu sampai dua jam dan semakin cepat pula saat musim dingin,” katanya, Senin, 3 Mei 2021.
 
Setelah hampir dua tahun di Canberra, Ano merasakan banyak hal yang berbeda saat menjalankan ibadah puasa. Tidak hanya dari segi ibadah, namun juga dalam hal menjaga kondisi kesehatan di tengah Ramadan. 
 
Ano sendiri merasa sangat terbantu dengan beberapa warga Indonesia yang tinggal di sana. Ia bisa menemui kegiatan pengajian dan buka bersama dengan cukup mudah.
 
“Mengingat tidak banyak muslim di sini, maka suasana Ramadan harus diciptakan dengan berbagai kegiatan yang biasa ditemui di Indonesia. Kalau Sydney dan Melbourne sepertinya sudah banyak muslimnya,” ungkapnya.
 
Di sisi lain, Ano pun mengaku kagum dengan tingkat toleransi di negara ini. Suatu ketika, ia pernah kebingungan mencari tempat untuk salat karena lokasi yang biasanya digunakan saat itu sedang ramai. 
 
Baca juga:  Mahasiswa Indonesia Berbagi Kisah Suka Duka Berpuasa di Taiwan
 
Untungnya, Ano dibantu oleh staf perpustakaan di ANU untuk menggunakan bilik kantornya sebagai tempat menjalankan ibadah salat.
 
“Bicara soal kegiatan ibadah, di sini sebenarnya tak ada larangan.  Hanya saja agak sulit mencari tempat yang memenuhi syarat untuk melaksanakan salat. Nah, waktu itu aku pernah bingung cari tempat salat, terus ketemu sama staf perpustakaan. Kemudian diajak ke kantornya dan diperbolehkan mendirikan salat di sana,” jelasnya.
 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif