dr Syuna Salimdra. Foto: UMM/Dok. Humas
dr Syuna Salimdra. Foto: UMM/Dok. Humas

Lulusan UMM Jadi Dokter di Usia 20 Tahun

Pendidikan beasiswa osc Pendidikan Tinggi
Daviq Umar Al Faruq • 14 November 2019 17:23
Malang: Lulusan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Syuna Salimdra, kini resmi menjadi seorang dokter. Profesi itu diraih Syuna di usianya yang baru menginjak 20 tahun.
 
Syuna telah mengikuti pelantikan dan pengambilan sumpah dokter ke-40 Fakultas Kedokteran (FK) UMM pada 26 Oktober 2019 lalu. Pria asal Banjarmasin ini diambil sumpahnya bersama 67 dokter lainnya yang telah menuntaskan pendidikan profesi dokter.
 
Syuna lulus Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) dengan nilai yang sangat memuaskan. Putra pasangan Buntoro Salimdra dan Marzuqoh ini tak hanya menjadi dokter termuda, namun juga berhasil meraih nilai terbaik UKMPPD Objective Structured Clinical Examination (OSCE) dengan nilai 42,08.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selama proses pendidikan profesi, dokter kelahiran 8 Mei 1999 ini sempat mengalami kesulitan. Namun berkat usaha disertai dorongan orang tua dia mampu melalui kendala tersebut.
 
Stase yang paling berat menurut saya adalah stase Puskesmas, karena tugasnya yang cukup banyak ditambah dengan jadwal jaga yang padat. Tapi, Alhamdulillah, semua sudah terlewati," katanya, Kamis 14 November 2019.
 
Cita-cita Syuna menjadi dokter sudah muncul sejak dia masih kecil. Pria yang hobi mendengarkan musik ini mengaku cita-cita itu muncul karena sering bertemu dengan dokter anak.
 
Baginya, profesi dokter merupakan pekerjaan yang sangat mulia karena bisa menolong banyak orang. “Saya melihat dokter dapat menyelamatkan hidup banyak orang, dari situ kemudian ketertarikan saya dimulai,” ungkapnya.
 
Syuna menyelesaikan pendidikan SD, SMP dan SMA dengan cepat karena mengikuti kelas akselerasi. Ketika SMA, Syuna mengaku tak ada metode khusus dalam belajar, selain rajin dan tekun.
 
Ketika memasuki perguruan tinggi, tempo belajarnya ia sesuaikan. Selama lima semester, Syuna dipercaya untuk menjadi asisten dosen di laboratorium skill FK UMM.
 
“Saya jadi asisten dosen mulai semester tiga sampai semester tujuh. Ternyata mengajar enak juga, apa yang diajar bisa lebih mudah diingat,” ujar pria yang bercita-cita menjadi dokter spesialis anastesi ini.
 
Syuna membuat tugas akhir dengan mengangkat fenomena penjual makanan yang menggunakan minyak jelantah untuk menggoreng. Di situ dia mencoba meneliti kerusakan hati yang disebabkan konsumsi makanan yang digoreng dengan minyak jelantah.
 
Pria yang sempat aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FK UMM ini menjelaskan, penelitiannya ini kelak bisa dimanfaatkan untuk manusia. Menurutnya, hati tikus memiliki kerja yang sama dengan hati manusia.
 
Sehingga, jika konsumsi minyak jelantah secara terus menerus dapat merusak hati tikus, maka hal yang sama juga dapat merusak hati manusia. “Jika ekstrak daun pepaya dapat mencegah kerusakan lebih lanjut pada hati tikus maka demikian halnya pada hati manusia,” pungkasnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif