Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Risbang) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Fauzan Adziman yang pernah menjadi staf akademik di Oxford pun mengungkapnya. Ia menjelaskan pembeda utama Oxford dengan kampus lainnya adalah pola pikir mendidik.
"Kampus tidak hanya mendidik mahasiswa agar cerdas, tetapi juga menyiapkan mereka menjadi pemimpin," ujar Fauzan dalam siaran youtube Grace Tahir dikutip Sabtu,18 Juli 2026.
| Baca juga: 17 Universitas di Indonesia yang Punya Jurusan AI: Ada UI, ITS hingga Binus! |
Fauzan mengetahui hal itu bukan dari cerita atau hasil riset semata. Selama sekitar 11 tahun, ia menjadi staf akademik di University of Oxford dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran di salah satu kampus tertua di dunia tersebut.
"Yang kami kejar di Oxford bukan sekadar mereka belajar fisika atau engineering. Setelah lulus, mereka harus menjadi pemimpin di bidangnya masing-masing," kata Fauzan.
Menurutnya, filosofi itu memengaruhi hampir seluruh sistem pendidikan di Oxford. Mulai dari metode mengajar, hubungan dosen dan mahasiswa, hingga cara kampus membangun karakter mahasiswa.
Salah satu hal yang paling membedakan Oxford dibanding banyak perguruan tinggi lain adalah sistem tutorial. Dalam metode ini, seorang dosen hanya membimbing satu hingga dua mahasiswa dalam satu sesi.
"Kalau mengajar, saya biasanya hanya mengajar dua mahasiswa. Sebelum masuk kelas mereka sudah mengerjakan tugas sekitar delapan jam, mengirimkan jawabannya sehari sebelumnya, lalu saya evaluasi. Kalau belum siap, mereka belum bisa mengikuti kelas," ujar Fauzan.
Dengan model tersebut, waktu di kelas tidak lagi digunakan untuk menjelaskan teori dasar. Sebaliknya, dosen dan mahasiswa berdiskusi, mengkritisi argumen, hingga memecahkan persoalan yang lebih kompleks.
"Mahasiswa datang bukan untuk mendengar dosen berceramah. Mereka datang untuk berpikir," katanya.
| Baca juga: Bukan Cuma Teknik Perminyakan, Ini 16 Jurusan Kuliah Paling Dibutuhkan di Industri Migas |
Menurut Fauzan, pendekatan seperti itu melatih kemampuan bernalar, mengambil keputusan, sekaligus mempertahankan argumentasi secara ilmiah. Hal lain yang menarik perhatian Fauzan adalah cara Oxford memandang pengembangan mahasiswa secara menyeluruh, termasuk untuk atlet.
Ia pun bercerita pernah mengajar mahasiswa yang juga merupakan atlet dayung (rowing) universitas. Jadwal latihan mereka bisa mencapai empat hingga enam jam setiap hari menjelang perlombaan bergengsi antara Oxford dan Cambridge.
Alih-alih memaksa mahasiswa memilih antara akademik atau olahraga, kampus justru memberi fleksibilitas. "Kalau mahasiswa saya bilang dia harus latihan dulu, kami bisa menggeser jadwal tutorial. Kampus melihat kemampuan akademik dan kemampuan fisik sama-sama penting untuk dikembangkan," ujarnya.
Menurut Fauzan, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berbicara soal nilai akademik. Tetapi juga pembentukan karakter, disiplin, dan kemampuan bekerja dalam tim.
Selain kemampuan akademik, Oxford juga memiliki mekanisme untuk memantau perkembangan setiap mahasiswa sejak awal kuliah. Melalui education committee, dosen mendampingi mahasiswa dan membantu mereka menentukan arah pengembangan diri sesuai potensi masing-masing.
"Kami melihat trajektori mereka. Ada yang potensinya menjadi akademisi, ada yang menjadi entrepreneur, ada yang menjadi pemimpin perusahaan. Pendidikan diarahkan agar mereka berkembang sesuai tujuan itu," katanya.
Pendekatan tersebut, menurut Fauzan, membuat mahasiswa tidak sekadar mengejar kelulusan, tetapi memahami kompetensi apa yang perlu dibangun untuk masa depannya. Pengalaman mengajar sekaligus membangun perusahaan teknologi berbasis riset di Inggris membuat Fauzan menyimpulkan bahwa kemampuan memimpin jauh lebih menentukan dibanding sekadar kecerdasan akademik.
Ia mengaku banyak lulusan universitas terbaik dunia memiliki kemampuan teknis yang luar biasa. Namun, ketika memasuki dunia kerja, yang membedakan mereka adalah kemampuan mengambil keputusan, bekerja sama, hingga menghadapi situasi yang tidak pasti.
"Entrepreneurship itu sebenarnya leadership. Seorang pemimpin harus bisa mengambil keputusan, mendengarkan orang lain, menyelesaikan masalah, dan membawa tim mencapai tujuan," ujarnya.
Karena itu, ia berharap pendidikan tinggi di Indonesia mulai memberi ruang lebih besar bagi pengembangan kepemimpinan mahasiswa. Mahasiswa diharapkan bukan hanya mengejar capaian akademik.
"Ilmu pengetahuan tetap penting. Tetapi tujuan akhirnya adalah bagaimana pendidikan mampu melahirkan orang-orang yang bisa memimpin perubahan di bidangnya masing-masing," kata Fauzan.
| Baca juga: Lulusan Peternakan Jadi Apa? Ini 15 Prospek Kerja, Gajinya Tembus Miliaran Rupiah! |
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda