Suster Dulce Maria Guterres meraih gelar Magister Kebidanan dari Fakultas Ilmu Kesehatan UNISA Yogyakarta. Menempuh studi di institusi pendidikan tinggi berbasis nilai-nilai keislaman membuaat Suster Dulce sempat cemas.
Faktor usia yang tak lagi muda serta keterbatasan yang dimiliki sempat memunculkan keraguan dalam batinnya. Namun, kekhawatiran tersebut perlahan pudar oleh ketulusan, kehangatan, kelembutan, dan keterbukaan dari seluruh civitas academika yang menyambut kehadirannya.
"UNISA bukan sekadar institusi pendidikan tinggi, melainkan sebuah oase dan rumah rohani yang menghadirkan rasa aman serta kedamaian bagi jiwa,” ungkap Suster Dulce saat menyampaikan pidato mewakili seluruh wisudawan dikutip dari laman unisayogyakarta.ac.id, Senin, 5 Oktober 2026.
Suster Dulce merupakan utusan Instituto de Ciência de Saúde (ICS) Dili dengan dukungan Yayasan Graça de Deus. Dia merasakan betul indahnya persaudaraan sejati di asrama kampus. Sebagai seorang biarawati Katolik, ia merasa diterima dengan penuh martabat, kasih, dan kedamaian.
“Pengalaman hidup ini makin meneguhkan keyakinan saya, bahwa ilmu pengetahuan dan pelayanan kemanusiaan adalah panggilan universal. Keduanya mampu meruntuhkan setiap sekat perbedaan, baik usia, latar belakang budaya, maupun keyakinan,” tegas dia.
Suster Dulce Maria Guterres saat menyampaikan pidato mewakili seluruh wisudawa Unisa Yogyakarta. DOK Unisa
Dia berharap kelulusannya ini dapat menjadi seutas benang emas yang mempererat jembatan kasih, persahabatan, dan kerja sama antara Timor-Leste dan Indonesia dalam memajukan peradaban kesehatan kemanusiaan.
Rektor UNISA, Dyah Rahmawatie Ratna Budi Utami, menyampaikan rasa bangga dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh lulusan dan para orang tua yang telah memercayakan putra-putrinya. Dyah mengingatkan ijazah dan gelar yang diterima bukanlah akhir dari proses menuntut ilmu, melainkan gerbang awal menghadapi dunia nyata yang penuh dinamika dan tantangan persaingan.
“Teknologi boleh semakin canggih, tetapi integritas tidak boleh tergantikan. Kecerdasan buatan boleh membantu kita bekerja lebih cepat, tetapi empati, kepedulian, tanggung jawab, dan kemampuan memahami manusia tetap menjadi kekuatan yang sangat penting,” pesan Dyah di hadapan para wisudawan.
Dia juga menekankan pentingnya bagi para lulusan untuk terus memegang teguh nilai-nilai identitas almamater (akhlak, amanah, profesional, kolaboratif, dan unggul) serta menjadi pribadi yang selalu memberi manfaat dan membantu menyelesaikan masalah di tengah masyarakat.
Pada wisuda periode ke-27 ini, UNISA Yogyakarta meluluskan 928 lulusan dari program magister, sarjana, sarjana terapan, dan diploma. Dari total tersebut, sebanyak 779 lulusan (83,94 persen) berhasil meraih predikat Cum Laude. Capaian IPK tertinggi diraih pada Program Pascasarjana dengan nilai sempurna 4,00 (rerata 3,92).