Helarius Daru Indrajaya atau Ndarboy Genk. Foto: Medcom/Talitha
Helarius Daru Indrajaya atau Ndarboy Genk. Foto: Medcom/Talitha

Gak Jadi Guru Usai Lulus Unnes, Ndarboy Genk Ungkap Alasan Pilih Jadi Musisi

Citra Larasati • 02 Juni 2026 19:02
Ringkasnya gini..
  • Penyanyi Ndarboy Genk menceritakan pengalamannya kuliah di Unnes.
  • Sebelum di Unnes, Ndarboy merupakan alumnus SMKN 2 Kasihan Bantul atau sering disebut dengan SMM Yogyakatra.
  • Meski memilih kuliah di jurusan pendidikan guru musik, namun kini ia memilih jalur karier sebagai musisi.
Jakarta: Pelantun lagu Mendung Tanpo Udan, Ndarboy Genk membagikan pengalaman menariknya saat menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Kasihan atau yang populer dikenal sebagai Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta. Ia mengaku keterampilan dan ilmu yang didapatkannya dari sekolah kejuruan tersebut sudah lebih dari cukup untuk membawanya langsung terjun ke dunia kerja.
 
Awalnya, pria bernama asli Helarius Daru Indrajaya ini sempat tidak berniat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan setelah lulus SMK. Namun, karena adanya dorongan dan tuntutan yang kuat dari pihak keluarga, ia akhirnya memutuskan untuk tetap kuliah.
 
Ndarboy kemudian memilih jurusan Pendidikan Seni Musik di Universitas Negeri Semarang (Unnes) sebagai tempatnya menimba ilmu. Menariknya, ia justru merasa materi kelas praktik di kampus terasa sangat mudah jika dibandingkan dengan pengalamannya semasa di SMK. Hal ini terjadi karena standar kelulusan praktik membaca notasi balok atau buku tugas bernama ‘Concone’ di kampusnya terbilang jauh berbeda.

“Di SMM itu ada namanya buku tugas praktik saya, lah. Buku tugas praktik saya itu namanya Concone. Itu kita harus baca notasi balok. Itu nomor 1 sampai nomor 50. Di SMM harus khatam itu,” kenang Ndarboy saat wawancara di Kantor Media Group, Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026.
 
Sementara di bangku perkuliahan, targetnya jauh lebih sedikit. “Saya masuk ke Pendidikan Seni Musik di Unnes. Dari semester 1 sampai lulus itu cuma mereka harus bisa khatam itu maksimal 5 Concone. Saya merem loh di kuliahan. Saya di SMK udah sampai 50,” imbuhnya.
 
Perbedaan standar kurikulum yang sangat mencolok ini membuatnya merasa bisa menjalani kelas praktik perkuliahan dengan amat mudah. Ia bahkan berseloroh bahwa kemampuannya yang sudah sangat matang sempat membuat para dosen di kampus merasa segan kepadanya. 
 
“Dosennya kalau saya masuk takut paling. Beneran nih, tanya istri gue,” selorohnya sembari tertawa.
 
Ndarboy juga menceritakan bahwa di SMM, salah satu pelajaran favoritnya adalah IT Panggung, ketika ia belajar mengelola sound system, tata letak panggung, hingga lighting di balik layar pertunjukan. Ketertarikannya pada musik sendiri murni berasal dari keinginan pribadi sejak kecil karena nilai akademisnya di sekolah formal kurang memuaskan.
 
Orang tuanya yang berprofesi sebagai guru kemudian mengarahkannya ke SMM agar bakatnya terarah secara akademik.  Meskipun memiliki latar belakang pendidikan guru, Ndarboy kini memilih jalan hidup sepenuhnya sebagai seorang musisi profesional.
 
Baginya, ilmu keguruan yang didapatkan dari kampus kini diterapkan secara mandiri di rumah. “Jadi guru enggak? Enggak. Guru buat anak-anak saya,” pungkasnya.
 
Kisah perjalanan Ndarboy Genk ini menjadi bukti nyata bahwa jalur pendidikan vokasi seperti SMK mampu mencetak lulusan dengan kompetensi tinggi yang siap bersaing, bahkan memberikan fondasi akademik yang sangat kuat untuk jenjang yang lebih tinggi. (Talitha Islamey)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA