Menristek dan Kepala BRIN, Bambang Brodjonegoro. Foto:  Kemenristek/Humas
Menristek dan Kepala BRIN, Bambang Brodjonegoro. Foto: Kemenristek/Humas

Menristek: Saya Tidak Alergi Sama Wartawan Kok

Pendidikan Kabinet Jokowi-Maruf Riset dan Penelitian
Citra Larasati • 14 November 2019 14:49
Jakarta: Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Brodjonegoro menegaskan, dirinya tidak alergi terhadap wartawan. Sebaliknya, sebagai pejabat publik, Bambang justru mengaku sangat membutuhkan wartawan dan media massa, tak hanya sekadar untuk menyosialisasikan program pemerintah, namun juga membumikan riset kepada masyarakat.
 
"Saya tidak alergi kok sama wartawan. Saya malah sudah terbiasa di-doorstop wartawan, sejak jadi Menkeu (Menteri keuangan), kepala Bappenas, sampai sekarang jadi Menristek/BRIN," kata Bambang, saat Ramah Tamah dengan wartawan di Gedung BPPT lantai 24, Jakarta, Rabum 13 November 2019.
 
Pernyataan tersebut disampaikan Bambang saat merespons kekhawatiran para jurnalis Riset dan Teknologi akan sulitnya membangun komunikasi antara pewarta dengan Bambang sebagai orang nomor satu di Kementerian Riset dan Teknologi/BRIN. Bambang justru mengaku peran media dalam kelancaran program pemerintah di bidang riset dan teknologi sangat penting.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebab menurut Bambang,saat ini isu riset dan inovasi masih merupakan isu segmented,yang hanya akrab di kalangan peneliti dan akademisi. Isu riset, teknologi, dan inovasi belum menjadi isu populis yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
 
Untuk itu, Bambang menilai keterlibatan media massa baik cetak maupun elektronik sangat strategis dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya bidang-bidang itu bagi kemandirian dan perekonomian nasional. Ia berharap dengan bantuan media massa, riset dan inovasi menjadi budaya baru di tengah masyarakat.
 
Menristek: Saya Tidak Alergi Sama Wartawan <i>Kok</i>
Menristek/Kepala BRIN, Bambang Brodjonegoro saat Ramah Tamah dengan Wartawan Riset, Teknologi, dan Inovasi. Foto: Kemenristek/Humas.
 
Bambang mengatakan, masyarakat masih menganggap riset dan inovasi harus bersifat canggih dan melibatkan peralatan modern yang mahal. Padahal menurutnya, inovasi juga dapat muncul dari hal yang sederhana.
 
"Yang terpenting dari output riset adalah dapat bermanfaat, tepat guna, terutama bagi masyarakat kalangan bawah juga Usaha Kecil Menengah (UKM)namun tepat guna," tegas lulusan Universitas Indonesia dan University of Illinois ini.
 
Pelaku riset dan inovasi pun tidak melulu berasal dari kalangan peneliti dan akademisi. Menurut Bambang. masyarakat biasa juga dapat terlibat untuk memecahkan permasalahan yang ada dengan penemuan solutif.
 
"Selain inovasi yang dilakukan lembaga riset, ada juga yang dilakukan oleh masyarakat secara langsung. Konteksnya lebih ke inovasi membuat suatu produk, contohnya dalam dua hari terakhir ini yaitu Helikopter buatan Sukabumi. Saya sudah meminta Lapan untuk mengecek standar dan kualitasnya secara langsung ke sana. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat pun bisa berinovasi tinggal bagaimana pemerintah menyikapinya," ungkap Bambang.
 
Bambang menambahkan, budaya inovasi dan seluruh kegiatannya akan dapat terlengkapi dengan pendekatan Triple Helix. Saat ini semua lapisan masyarakat bisa menjadi inovator berdasarkan rasa keingintahuannya untuk memecahkan masalah dan tantangan-tantangan yang terjadi saat ini.
 
"Saya meyakini inovasi-inovasi di Indonesia akan mendunia," tutupnya.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif