Mahasiswa UGM Alfath Qornain Isnan Yuliadi. DOK UGM
Mahasiswa UGM Alfath Qornain Isnan Yuliadi. DOK UGM

Kisah Alfath Menembus UGM, dari Jadi Tukang Bangunan hingga Torehkan Belasan Prestasi

Renatha Swasty • 10 April 2026 21:34
Ringkasnya gini..
  • Alfath berjuang masuk UGM selain belajar juga bekerja di proyek untuk mendaftar UTBK.
  • Kehidupan bangku kuliah di UGM membawa perubahan besar dalam dirinya.
  • Alfath telah memenangkan 15 perlombaan di tingkat nasional dan internasional.
Jakarta: Tekad Alfath Qornain Isnan Yuliadi melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah berbuah manis. Dari satu-satunya siswa di sekolahnya yang lolos ke UGM, hingga kini menorehkan belasan prestasi nasional dan internasional.
 
Mahasiswa prodi D4 Teknologi Rekayasa Pelaksanaan Bangunan Sipil, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2022 asal Klaten itu menjadi yang pertama di keluarga yang menginjakkan kaki di bangku kuliah. Di balik itu, perjuangannya penuh liku.
 
“Kalau di angkatan saya, jujur cuma saya. Satu-satunya dari SMK saya yang lolos,” ujar Alfath dikutip dari laman ugm.ac.id, Jumat, 10 April 2026. 

Keputusan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi penuh keraguan dari orang tuanya. Sejak awal, ia diarahkan masuk SMK agar bisa segera bekerja setelah lulus. 
 
“Awalnya memang tarik ulur. Karena dari awal saya dimasukkan ke SMK supaya setelah lulus bisa langsung bantu kerja,” tutur dia.
 
Selain itu, ada pertimbangan ekonomi yang tidak sederhana. Sebagai anak kedua dari enam bersaudara, Alfath sadar keputusannya akan berdampak pada kondisi keluarga. Namun tekadnya tidak goyah. 
 
“Saya bilang ke ayah, kalau saya mentok di SMK saja, kemungkinan berkembangnya lebih sulit. Saya ingin berkembang lebih jauh, saya ingin kuliah,” kenang dia. 
 
Perlahan, keyakinannya meluluhkan hati orang tua. Perjuangan Alfath tidak berhenti pada izin. Ia membiayai sendiri langkahnya menuju kampus impian. 
 
Kisah Alfath Menembus UGM, dari Jadi Tukang Bangunan hingga Torehkan Belasan Prestasi
Alfath saat bekerja sebagai tukang bangunan di proyek. DOK UGM
 
Sejak kelas dua SMK, ia turun langsung ke proyek bersama ayahnya. Dari menggali fondasi hingga mengangkat material, ia jalani semua. 
 
Upahnya tidak besar, sekitar Rp50 ribu per hari, namun cukup untuk ia kumpulkan sebagai bekal mendaftar UTBK. “Saya enggak enak minta ke Bapak. Jadi saya kerja, sebagian ditabung buat UTBK, sebagian buat kebutuhan sekolah,” kata dia.
 
Di sela kerja penuh waktu dari pagi hingga sore, Alfath tetap menyisihkan waktu belajar di malam hari. Menjelang ujian, ia mengatur waktu empat hari bekerja, tiga hari penuh di akhir pekan untuk belajar. 
 
Perjuangannya sempat diuji ketika ia mengalami kecelakaan kerja, jatuh dari lantai dua proyek bangunan. Namun, alih-alih menyerah, pengalaman itu justru menguatkan tekadnya. 
 
“Saya sempat overthinking, takut enggak bisa lanjut. Tapi alhamdulillah diberi kesempatan sampai di titik ini,” ujar dia.
 
Hari pengumuman hasil seleksi UTBK menjadi titik balik dalam hidupnya. Alfath membuka hasil seleksi seorang diri di kamar. 
 
Ketika dinyatakan lolos ke UGM, dia langsung memeluk ibunya, lalu bergegas mencari sosok yang paling ia ingat, ialah kakeknya. “Saya ingat banget, saya lari nyamperin kakek saya, langsung saya peluk dan bilang, Saya jadi kuliah',” kenang Alfath.
 
Sang kakek sangat bangga, karena Alfath adalah satu-satunya cucu yang bisa menempuh pendidikan di bangku kuliah. Harapannya, Alfath mampu menjadi pembuka bagi keluarganya yang lain untuk menempuh pendidikan tinggi.
 
Kehidupan bangku kuliah di UGM membawa perubahan besar dalam dirinya. Dulu, dia introvert dan hanya fokus akademik, kini aktif berorganisasi hingga dipercaya memimpin BSO di Sekolah Vokasi dan mengikuti berbagai kompetisi. 
 
“Saya dulu bahkan diajak lomba enggak mau. Tapi di UGM saya sadar itu penting, dan mulai aktif sejak semester tiga,” kata dia.
 
Kisah Alfath Menembus UGM, dari Jadi Tukang Bangunan hingga Torehkan Belasan Prestasi
Alfath menjadi Insan Berprestasi UGM 2025. DOK UGM
 
Hingga kini, Alfath telah memenangkan 15 perlombaan di tingkat nasional dan internasional. Bahkan, dia sempat menjadi finalis pada sebuah kompetisi di Nanyang Technological University Singapura. 
 
Prestasinya mengantarkannya meraih penghargaan menjadi Insan Berprestasi UGM pada 2025.“Orang tua saya senang banget. Mereka enggak menyangka anaknya bisa sampai dapat penghargaan dari UGM,” ujar dia.
 
Perjalanan Alfath adalah bukti latar belakang bukanlah batas. Dari siswa SMK yang sempat diragukan, kini ia menjadi mahasiswa berprestasi yang tidak hanya mengangkat dirinya sendiri, tetapi juga membuka jalan bagi generasi setelahnya. 
 
“Tugas kita bukan menerka masa depan, tapi memaksimalkan apa yang bisa kita lakukan sekarang, supaya nanti kita tidak menyesal,” ujar dia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan