Lebih dari dua dekade mendedikasikan diri di laboratorium, sosoknya kini tidak hanya diakui sebagai ilmuwan kelas dunia, tetapi juga mentor teladan bagi para cendekiawan muda. Jejak akademis Diana ditempa melalui lintasan lintasbenua.
Setelah menamatkan studi doktoral bidang mikrobiologi di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2001, dengan riset yang difasilitasi beasiswa Deutscher Akademischer Austauschdienst (DAAD) di Jerman, ia langsung melesat ke Amerika Serikat. Dua program postdoctoral ia rampungkan, masing-masing di Oklahoma State University (2002) dan University of Texas Medical Center Houston (2003).
Kembali ke Indonesia pada tahun 2004, Diana memilih jalan sunyi dunia pendidikan dengan bergabung menjadi akademisi di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (UAJ). Perjuangannya tidak mudah. Fokus risetnya pada mikrobiologi pangan, khususnya pengendalian patogen, bakteri pembusuk, hingga pemanfaatan bacteriophage, sempat terbentur tembok klasik, yakni keterbatasan dana.
Alih-alih menyerah pada keadaan, hambatan finansial itu justru memantik insting bertahannya. Dengan arahan mentor-mentor senior, ia mulai bergerilya memburu hibah kompetitif. Hasilnya tak main-main. Ia sukses menggondol pendanaan bergengsi dari International Foundation for Science (IFS) dan International Society for Infectious Disease (ISID).
Kiprahnya terus meroket. Ia dipercaya menjadi Country Ambassador Indonesia untuk American Society for Microbiology (ASM) periode 2016-2021 dan menggelar pelatihan pengajaran sains di 14 universitas se-Nusantara. Dedikasinya pada ilmu pengetahuan bahkan diganjar penghargaan prestisius dari Bill and Melinda Gates Foundation, World Society for Pediatric Infectious Diseases, hingga Indonesia Toray Science Foundation.
Di balik deretan portofolio mentereng tersebut, Diana menaruh perhatian serius pada krisis karakter di dunia akademik. Sebagai pendidik yang telah membimbing ratusan mahasiswa tingkat sarjana dan magister, ia menilai tantangan terbesar masa kini bukan sekadar kecerdasan, melainkan moralitas.
“Selama berkarier sebagai dosen dan peneliti, tantangan terbesar adalah mendidik mahasiswa agar memiliki integritas dan memupuk kejujuran selama proses pembelajaran. Sementara tantangan sebagai peneliti adalah harus terus berupaya dan berinovasi mencari dana riset dari badan riset nasional serta internasional dan mengupayakan riset tersebut menjadi tepat guna,” jelasnya dikutip dari siaran persnya, Selasa, 30 Jui 2026.
Kini, dengan posisinya yang kembali dipercaya sebagai Dekan di Fakultas Biosains, Teknologi, dan Inovasi (FBTI) UAJ untuk periode 2026, Diana memikul visi besar untuk mencetak ekosistem riset yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
“Saya sangat berharap FBTI dapat menjadi pusat edukasi biosains dan teknologi bagi berbagai kalangan dan terus menghasilkan karya inovatif yang bermanfaat untuk orang banyak. Selain itu saya juga berharap semangat untuk terus berkarya dalam riset menular untuk teman-teman dosen di FBTI,” ujarnya.
Bagi Gen Z dan para peneliti muda yang sedang merintis jalan di dunia sains, perjalanan panjang Diana adalah bukti nyata bahwa intelektualitas harus dibarengi dengan kegigihan jejaring sosial.
"Ask for advice from senior researchers and colleagues, as collaboration and networking are key to success. Never stop learning, do your best, and let God do the rest," pesannya.
| Baca juga: Kisah Nurma, Anak Penjual Kacang Belajar dari Jam 3 Pagi hingga Lolos UGM dan Kuliah Gratis |
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda