Penggunaan Gadget pada Anak Maksimal 2 Jam
Ilustrasi - Medcom.id
Jakarta: Era digital membuat penggunaan gadget menjadi berlebih, tak terkecuali pada anak-anak. Kecanduan anak terhadap gadget harus menjadi perhatian bagi orang tua.

Psikolog Anak Firesta Farizal menyebut kecanduan gadget pada anak akibat pembiaran dari orang tua. Pembiaran ini lantaran tidak adanya pengawasan dari orang tua hingga membuat sang anak bebas menggunakan gadget kapan pun.


Saat anak memegang gadget, orang tua harus mengawasi penggunaannya. Cara paling sederhananya adalah dengan membatasi waktu anak dalam bermain gawai tersebut.

"Hanya selama 1,5 jam sampai 2 jam sehari yang dibagi dalam beberapa sesi. Bukan non-stop," kata Firesta kepada Medcom.id, Jakarta, Senin, 5 Februari 2018.

Menurutnya, pembiaran selalu dimulai dari hal-hal kecil. Misal, orang tua mudah luluh hatinya karena sang buah hati menangis jika tidak diberikan gadget. Bahkan kerap sang anak melakukan tindakan ekstrem seperti memukul atau memberontak hingga akhirnya diberi gadget.

"Gadget bagi anak-anak sangat menarik karena di dalamnya bergerak, bersuara, dan berwarna. Apalagi anak-anak juga melihat orang tuanya bermain gadget sehingga mereka juga ikut terpusat kepada gadget," jelasnya.

Firesta menambahkan ada pola tertentu yang bisa diperhatikan orang tua bila sang buah hati mulai ketergantungan gadget. Pola tersebut yakni ketika anak bermain gadget secara terus-menerus selama lebih dari 3-4 jam dan mulai mengenyampingkan hal-hal yang bersifat utama seperti makan dan tidur.

Jika kecanduan terhadap gadget terus dibiarkan, maka tidak akan ada proses interaksi yang baik antara anak dan orang tua. Selain itu, perkembangan anak akan berjalan lambat lantaran anak hanya menatap layar handphone dan tidak bergerak untuk melakukan aktivitas seperti bermain.

"Usia anak-anak harusnya butuh banyak bergerak agar dapat berkembang dengan baik. Baik secara berpikir, bergerak, dan bersosial-emosional," tegasnya.

Untuk mencegah anak ketergantungan terhadap gadget, ada cara-cara tertentu yang harus dibangun. Yakni, membangun pola komunikasi antara anak dan orang tua.

"Ada aturan yang konsisten termasuk pola asuh yang baik, serta orang tua harus aktif mengajak anak untuk beraktivitas," kata Firesta.



(HUS)