Ilustrasi belajar, Medcom.id - M Rizal
Ilustrasi belajar, Medcom.id - M Rizal

Guru, Hoaks, dan Keterampilan Berpikir Kritis

Pendidikan pendidikan
06 April 2018 17:56
MARAKNYA berita bohong (hoaks) di tengah masyarakat akhir-akhir ini membuat kita resah. Meresahkan sebab mengancam keutuhan bangsa. Lebih resah lagi karena bukan hanya masyarakat awam yang berkontribusi menyebarkan hoaks, tetapi sampai pada kalangan pendidik; guru dan dosen. Menyedihkan lagi, setidaknya sudah ada tiga (3) guru dan seorang dosen ditangkap kepolisian karena menyebarkan hoaks.
 
Kondisi tersebut menjadi peringatan keras bagi pendidikan dan persekolahan kita. Yang disebut guru profesional, mesti memenuhi empat (4) syarat kompetensi; kompetensi pedagogis, profesional, kepribadian dan sosial. Jika faktanya guru pun melibatkan diri dalam memproduksi dan mengembangbiakkan berita bohong, setidaknya 3 kompetensi (dari 4) sudah tak tercermin dalam dirinya.
 
Pertanyaan pokoknya adalah; Mengapa para guru memercayai dan (sampai hati) menyebarkan berita hoaks?

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Untuk menjawab persoalan penting di atas, ada dua (2) perspektif jawaban. Pertama, sudah menjadi fakta dunia pendidikan nasional sekarang, jika tingkat literasi kita memang rendah dibanding negara lain termasuk di Asia Tenggara.
 
Guru, Hoaks, dan Keterampilan Berpikir Kritis
(Satriwan Salim, Pengajar di Labschool, dok: pribadi)
 
Itulah yang tergambar dalam hasil penelitian PISA (Programme for International Student Assessment) 2015, skor untuk literasi siswa Indonesia 397. Tetangga negara Asia Tenggara lain seperti Vietnam memeroleh skor 487, Malaysia 431, dan Thailand 409. Bagaimana Singapura? Negeri Singa ini di posisi teratas dunia dalam hal membaca, dengan skor 535. Dan, posisi Singapura teratas pula untuk skor matematika dan sains.
 
Harus diterima, bahwa tingkat literasi peserta didik kita rendah. Tapi sebagai seorang guru, yang patut malu dan menjadi koreksi bersama yakni kita para guru. Guru semestinya yang bertanggungjawab. Bagaimana literasi siswa akan ditingkatkan, jika gurunya saja malas membaca.
 
Jujur harus diakui, kita para guru juga malas membaca. Fakta ini mengonfirmasikan hasil kajian Bank Dunia terkait persoalan pendidikan Indonesia, diantaranya adalah masalah kualitas guru. Bahkan dari hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) 2015, secara nasional rata-rata nilainya 56,69 (Kompas, 12/3/2018). Tentu angka ini cukup merisaukan. Artinya tingkat literasi siswa yang rendah, sangat dipengaruhi oleh kualitas guru termasuk rendahnya literasi guru di dalamnya.
 
Maka untuk menghentikan pengembangbiakan hoaks secara total, mutlak harus dimulai dengan literasi guru. Guru memberikan teladan literasi di sekolah agar bisa menjadi inspirasi bagi siswa. Akan efektif jika dilakukan, sebab para siswa akan menjadikan guru sebagai 'role model' yang baik dalam dirinya.
 
Mulailah dengan mendisain ruang perpustakaan kelas. Beragam tunjangan guru yang diperoleh (khususnya bagi yang di kota-kota besar), alangkah eloknya disisihkan untuk membeli buku. Memenuhi lemarinya dengan buku dan dibaca. Membawa koleksi buku pribadinya ke ruang kelas. Menaruhnya di perpustakaan kelas.
 
Guru, Hoaks, dan Keterampilan Berpikir Kritis
(Ilustrasi kegiatan pendidikan, Medcom.id - M Rizal)
 
Bersama siswa, membaca buku koleksi perpustakaan kelasnya tadi. Bagi siswa yang mampu, sisihkanlah sebagian uang jajannya untuk memenuhi perpustakaan kelasnya dengan buku. Makin banyak membaca, makin luas cakrawala dan akan lebih rasional dan kritis dalam memahami peristiwa. Setidaknya langkah kecil inilah yang pernah penulis lakukan di tempat mengajar.
 
Kedua, berseliwerannya hoaks di masyarakat yang juga merambat ke dunia pendidikan, dikarenakan proses pembelajaran di kelas belum menggunakan metode menyenangkan, sekaligus jauh dari kemampuan berpikir kritis (critical thinking), baik dari guru maupun siswanya.
 
Proses pembelajaran masih dilakukan secara klasikal; hanya ceramah di depan kelas. Guru biasa aktif bermonolog di depan. Sedangkan siswa pasif mendengar. Belum terbangun “pembelajaran yang mengundang” –meminjam istilah Conny R Semiawan- yakni suasana pembelajaran yang memancing keingintahuan siswa, memancing kemampuan berpikir kritis siswa dan yang melibatkan olah pikir, olah hati, olah rasa dan raga sekaligus di dalamnya.
 
Keterampilan berpikir siswa kita masih kategori rendah (lower order thinking skill). Merujuk pada Taksonomi Bloom, yang diperbarui oleh Anderson (2001), bentuk kemampuan berpikir rendah adalah mengingat (C-1), memahami (C-2) dan mengaplikasikan (C-3).
 
Para siswa baru mampu mengingat, mengahafal setumpuk teori, rumus, nama, tempat, waktu dan definisi. Naik sedikit pada memahami kenapa sebuah fenomena terjadi. Itupun karena sudah ada konsepnya di buku pelajaran, dihafalkan lalu dikeluarkan ketika ulangan, dan sampai nanti di ujian nasional. Begitulah terus siklusnya.
 
Guru, Hoaks, dan Keterampilan Berpikir Kritis
(Ilustrasi perpustakaan, Medcom.id - M Rizal)
 
Siswa belum sampai pada tahapan berpikir (meng) analisis (C-4), menilai (C-5) dan mencipta (C-6). Tiga keterampilan terakhir inilah yang disebut “high order thinking skill”.
 
Bagi penulis rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa, juga dipengaruhi oleh pendekatan yang dipakai guru di kelas. Guru masih menjadi sumber pengetahuan yang utama bagi siswa. Relasi guru dan siswa masih bersifat superior-inferior. Guru selalu benar dan siswa bisa salah. Guru tahu, siswa tidak tahu. Guru mengajar, siswa belajar. Guru aktif, siswa pasif.
 
Pola pengajaran seperti inilah yang disebut Pulo Freire (1985) dengan 'pendidikan gaya bank'. Siswa diibaratkan sebagai tabungan yang selalu siap diisi oleh koin-koin atau lembaran pengetahuan dari guru.
 
Terlibatnya guru dalam menyebarkan hoaks, adalah karena rendahnya kesadaran kritis yang dimilikinya. Kesadaran kritis tersebut dipengaruhi oleh kemampuan berpikir kritis yang rendah juga, sehingga suasana pembelajaran yang kritis dan dialogis tidak terbangun dalam kelas.
 
Guru tak ubahnya seorang pendoktrin yang terus berceramah di muka siswa. Sehingga nilai utama pendidikan yang sejatinya bersifat dialogis telah direduksi langsung. Padahal guru bukanlah dewa, dan murid bukanlah kerbau yang dicocok hidungnya kata Soe Hok Gie (1942-1969).
 
Berbahayanya lagi, jika hoaks tersebut disampaikan di depan kelas dan siswanya pun mengamininya. Para siswa yang meyakini hoaks dari gurunya (karena guru dianggap selalu benar), lantas mereproduksi dan tak henti menyebarluaskan di media sosial mereka. Inilah puncak dari hoaks yang paling mengerikan dan berpotensi mengancam integrasi nasional kita masa kini dan mendatang.
 
Semoga kekhawatiran tersebut tak makin menjadi. Dengan prasyarat mutlak yaitu guru harus mampu menghadirkan suasana pembelajaran dialogis, membangun kesadaran kritis siswa, menghadirkan pembelajaran yang mengundang sekaligus menyenangkan bagi siswa. Semua itu tak akan terwujud tanpa didasari literasi yang baik.
 
Semoga guru-guru kita memulainya dari sekarang. Tak ada kata terlambat, jika masih memiliki rasa cinta terhadap masa depan republik ini.
 
Penulis: Satriwan Salim
Pengajar di Labschool Jakarta-UNJ dan Wasekjen Federasi Serikat Guru Indonesia/FSGI


 

(RRN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif