Guru sedang mengajarkan siswa di muka kelas, MI/Gino Hadi.
Guru sedang mengajarkan siswa di muka kelas, MI/Gino Hadi.

Darurat Kekurangan 1,3 Juta Guru ASN, P2G Usulkan 2 Solusi Ini Kepada Jokowi

Citra Larasati • 17 Oktober 2021 20:57
Jakarta:  Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) membeberkan data kebutuhan guru ASN (Aparatur Sipil Negara) di sekolah negeri, yang jumlahnya mencapai 1,312.759 guru hingga 2024.
Sementara itu, angka kebutuhan guru yang paling besar, tahun 2021-2022 ada di jenjang SD-SMP 823.383 guru.
 
Angka ini mengingat banyaknya guru yang pensiun di sekolah negeri. Perlu diketahui, mengutip data Kemendikbudristek jumlah guru berstatus PNS yang mengajar di sekolah negeri sampai 2021 adalah 1.236.112 guru atau 60 persen, sedangkan yang berstatus Bukan PNS (honorer) sebanyak 742.459 atau 36 persen. 
 
"Artinya hampir 40 persen, status guru di sekolah negeri sebagai guru honorer. Bayangkan kalau tidak ada guru honorer yang mengajar, keberadaan mereka sangat menentukan keberlanjutan pendidikan di sekolah negeri, negara betul-betul berhutang kepada guru honorer ini," kata Kepala Bidang Advokasi Guru, P2G, Iman Zanatul Haeri, dalam keterangan tertulis, Minggu, 17 Oktober 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mengingat banyaknya angka kebutuhan guru ASN di sekolah negeri sampai 2024, sebagai solusi yang bersifat jangka panjang, P2G mengusulkan dua solusi.
 
Untuk itu, P2G meminta kepada Presiden Jokowi agar pemerintah tetap membuka seleksi Guru PNS di 2022-2024 nanti. Besarnya angka kebutuhan guru ASN di sekolah negeri, terjadi karena akumulasi kebijakan pemerintah yang cukup lama melakukan moratorium (penghentian sementara) penerimaan guru PNS.
 
"Alhasil, kebutuhan guru mengajar di sekolah negeri digantikan oleh guru honorer yang terus direkrut baik oleh Pemda maupun sekolah, kalau tak ada guru honorer siapa yang lagi yang mau mendidik siswa?" terang Iman yang juga berstatus sebagai guru honorer ini.
 
Baca juga:  P2G Minta Guru Lolos Passing Grade Tahap I Otomatis Lulus di Seleksi PPPK Tahap 2
 
Adapun rekrutmen Guru PPPK yang tengah berlangsung saat ini, bagi P2G bukanlah solusi jangka panjang, melainkan jangka pendek. Mengingat status kontraknya yang maksimal lima tahun bagi guru PPPK, jauh berbeda dengan Guru PNS yang bertugas sampai pensiun usia 60 tahun.
 
"Bagaimana jika kontrak PPPK nya diberikan 1 atau 2 tahun saja, tentu manajemennya tidak akan menutupi kebutuhan guru ASN jangka panjang," ujar Dia.
 
Selain rekrutmen PNS, P2G menilai sudah semestinya Kemendikbudristek melaksanakan perintah Pasal 22-23, UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. tertulis dalam pasal tersebut: "Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dapat menetapkan pola ikatan dinas bagi calon guru untuk memenuhi kepentingan pembangunan pendidikan nasional atau kepentingan pembangunan daerah". 
 
Pola rekrutmen guru ikatan dinas berasrama seperti ini belum direalisasikan pemerintah sampai sekarang. Padahal, rekrutmen guru pola ikatan dinas akan memberikan minimal dua keuntungan sekaligus.
 
Pertama, guru yang direkrut adalah benar-benar pilihan yang kompetensinya sudah dibentuk sejak masuk LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) dengan status PNS ikatan dinas pascakuliah. Kedua, rekrutmen guru pola ikatan dinas yang dikelola LPTK akan dapat memenuhi kekurangan guru ASN secara nasional. 
 
"UU Guru dan Dosen sudah berumur 16 tahun, namun pasal ini belum dilaksanakan, jangan sampai pemerintah dianggap tak patuhi UU," kata guru di salah satu SMA ini.
 
Ketiga, salah satu bentuk persoalan Guru Honorer Kategori 2 (K2) di daerah yang tidak lulus Tes PPPK Tahap 1 adalah tidak adanya formasi di sekolah induk. Mayoritas guru PAI dan Bahasa Daerah atau Bahasa Asing selain bahasa Inggris.
 
Oleh karena itu P2G mengusulkan kepada Kemendikbudristek juga menambah formasi Guru PAI dan Mulok (agar berlaku nasional) sehingga terserap dan sesuai kebutuhan riil daerah Guru Mulok. Misalkan Bahasa Sunda, mereka terpaksa mendaftar PPPK ke formasi mata pelajaran lain.
 
"Sebab nyatanya formasi Bahasa Sunda tidak ada," tutup Iman.
 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif