Wakil Menteri Agama (Wamenag), Zainut Tauhid Sa'adi. Foto: Dok. Kemenag
Wakil Menteri Agama (Wamenag), Zainut Tauhid Sa'adi. Foto: Dok. Kemenag

Hari Guru Nasional 2020

Wamenag: Pendiri Bangsa Wariskan Ilmu, Amal, dan Mengajar

Pendidikan guru Hari Guru Nasional Madrasah
Citra Larasati • 25 November 2020 22:15
Jakarta:  Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan peringatan Hari Guru Nasional (HGN) mengingatkan pada sikap moral yang diajarkan dan diteladankan para pendiri bangsa (the founding fathers).  Menurutnya, ada tiga sikap moral yang diwariskan para pendiri bangsa, yaitu berilmu, beramal, dan mengajar.
 
“Pendiri bangsa mengajarkan kita tentang berilmu, beramal, dan mengajar,” terang Wamenag saat berbicara pada Webinar tentang “Guru Madrasah Pewaris Founding Father Bangsa”, Rabu, 25 November 2020.
 
Webinar diselenggarakan oleh Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah, Kemenag.  Hadir juga, Sekretaris Umum Muhammadiyah, Abdul Mu’thi, dan Ketua Umum LP Ma’arif NU, Arifin Junaedi. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca juga:  HGN 2020, Kemenag Serahkan Bantuan Subsidi Upah Guru Non-PNS
 
Menurut Wamenag, sikap moral itu tumbuh dari perjalanan hidup mereka dalam perjuangan memerdekakan dan membangun bangsa. Mereka terjun langsung ke masyarakat, mendidik rakyat, dan banyak di antara mereka mengabdi sebagai guru.
 
Presiden pertama RI, Soekarno misalnya, pernah menjadi guru agama Islam di sekolah dasar Muhammadiyah selama pengasingan di Bengkulu. Begitu juga dengan Bung Hatta dan Bung Syahrir selama masa pembuangan di Banda Neira, Maluku, aktif mengajar dan berbagi ilmu pada anak-anak kecil dan remaja lokal di sana. 
 
Baca juga:  Nadiem: Profesi Guru Mulia dan Terhormat
 
Tan Malaka, kata Wamenag, sekembalinya dari Eropa, juga aktif menjadi guru bahasa untuk anak-anak buruh perkebunan di Sanembah, Deli, Sumatera Utara. Begitu juga KH Abdul Wahid Hasyim yang sepulang dari naik haji, terjun langsung mengajar di pesantren Tebu Ireng. 
 
“Banyak bapak bangsa lainnya, termasuk pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, dan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, yang mengawali karier sebagai guru, pengajar, kyai, di lembaga pendidikan masing-masing,” tuturnya. 
 
Menurut Zainut, masih banyak bapak bangsa kita lainnya yang istikamah dalam berilmu, mengajar, dan beramal. Mereka, kata Zainut, adalah guru bangsa yang juga penggerak, pejuang, dan akhirnya menjadi pembebas anak-anak bangsa dari belenggu ketidaktahuan, kebodohan, dan sikap mental negatif lainnya menuju kemerdekaan agar bangsa kita mampu duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan bangsa lain.
 
Sikap para pendiri bangsa ini tidak terlepas dari pemahaman pesan agama tentang hifdzun nasl, melindungi keturunan. “Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah bentuk amaliyah untuk melindungi keturunan, juga melindungi martabat kita sebagai suatu bangsa,” jelasnya. 
 
Wamenag melihat bahwa guru adalah profesi mulia. Sebab, guru adalah sosok yang menggandeng tangan peserta didik, membuka pikiran, menyentuh hati, dan membentuk masa depan mereka, bahkan meski mereka bukan anak kandungnya.
 
Bagi Zainut, guru berperan penting untuk menghantarkan peserta didik agar memiliki kecerdasan dan daya hidup, agar siap mengarungi masa depan yang semakin kompetitif. Guru juga berperan penting dalam menanamkan nilai dan tradisi agama Islam, membentuk akhlak dan kepribadian generasi muda muslim, sebagai benteng moralitas bangsa. 
 
“Selamat Hari Guru Nasional tahun 2020. Bangkitkan Semangat, Wujudkan Merdeka Belajar, tetap dan selalu mendidik putra-putri Indonesia guna mencerdaskan kehidupan bangsa,” tutupnya.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif