Makassar: Banyak dokter muda memilih memulai pengabdian di tempat nyaman dengan fasilitas kesehatan lengkap. Tapi tidak dengan drg. Nur Anita, alumnus Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia (FKG UMI).
Nur Anita memilih membawa ilmu dan profesinya ke wilayah yang justru menghadapi keterbatasan akses pelayanan kesehatan. Setelah menyelesaikan pendidikan dan disumpah sebagai dokter gigi pada 2021.
Dia memilih menjalankan profesinya di Nabire dan melanjutkan pengabdian di Deiyai, Papua Tengah. Sebelumnya, dia terlibat dalam pengabdian di Raja Ampat dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Papua adalah rumah. Kedua orang tuanya merantau dari Makassar ke Papua pada 1988. Di sana, dia tumbuh dan melihat langsung realitas pelayanan kesehatan masyarakat di Kabupaten Paniai.
Sejak kecil, ia menyaksikan tetangga maupun kerabat harus menempuh perjalanan jauh untuk memperoleh pelayanan dokter gigi. Pengalaman itu ikut menentukan ke mana ilmu yang diperolehnya akan dibawa.
Perjalanan Nur Anita sebagai dokter gigi dibangun di FKG UMI. Di kampus, ia mempelajari ilmu kedokteran gigi melalui pendidikan akademik, praktikum, keterampilan klinis, pendidikan profesi, hingga interaksi langsung dengan pasien.
Namun, pendidikan kedokteran gigi tidak hanya mengajarkan cara melakukan tindakan klinis. Ia juga belajar melihat manusia di balik setiap kondisi kesehatan.
Setelah disumpah sebagai dokter gigi pada 2021, Nur Anita memiliki pilihan untuk menentukan tempat memulai perjalanan profesionalnya. Ia memilih kembali ke Indonesia Timur.
Pilihan tersebut membawanya lebih dekat dengan persoalan yang telah dikenalnya sejak kecil: jarak pelayanan, kondisi geografis, keterbatasan fasilitas, transportasi, serta ketersediaan tenaga kesehatan.
Nur Anita memulai perjalanan profesinya di Kabupaten Nabire. Selama kurang lebih dua tahun, ia menjalankan tugas sebagai dokter gigi sekaligus belajar memahami kebutuhan masyarakat secara lebih dekat.
Bekerja jauh dari pusat pelayanan kesehatan memberikan pengalaman berbeda dari lingkungan pendidikan. Tidak semua pasien datang dengan akses mudah. Tidak semua kondisi dapat ditangani dengan fasilitas ideal. Tidak semua pelayanan lanjutan tersedia dalam jarak dekat.
Situasi tersebut menuntut kemampuan beradaptasi, memanfaatkan sumber daya yang tersedia, membangun komunikasi dengan pasien, serta bekerja bersama tenaga kesehatan lainnya.
Setelah Nabire, perjalanan pengabdiannya berlanjut ke Kabupaten Deiyai. Di wilayah ini, tantangan pelayanan kesehatan semakin memperlihatkan bahwa persoalan kesehatan tidak selalu selesai hanya dengan kemampuan klinis seorang dokter.
Jarak, transportasi, fasilitas kesehatan, jumlah tenaga kesehatan, serta akses terhadap pelayanan lanjutan dapat ikut menentukan perjalanan seorang pasien memperoleh pertolongan. Karena itu, seorang dokter juga membutuhkan kesabaran untuk mendengarkan, kemampuan menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami, dan kepekaan terhadap kondisi sosial masyarakat yang dilayani.
Pengalaman di Raja Ampat, NTT, Nabire, hingga Deiyai membawa Nur Anita pada satu pemahaman penting bahwa pelayanan kesehatan selalu berhubungan dengan tempat manusia hidup. Di wilayah dengan keterbatasan akses, dokter tidak hanya hadir untuk melakukan tindakan medis.
Ia juga berhadapan dengan persoalan jarak, budaya, kebiasaan, komunikasi, keterbatasan fasilitas, serta kemampuan masyarakat memperoleh pelayanan.
Dari masyarakat, Nur Anita belajar komunikasi merupakan bagian penting dari pelayanan kesehatan.
Mendengarkan keluhan dengan sabar, memberikan edukasi, menjelaskan kondisi dan pilihan pelayanan dengan bahasa sederhana, sama pentingnya dengan tindakan klinis. Di sini, pengabdian menjadi lebih manusiawi. Pasien bukan sekadar kasus yang harus diselesaikan, tetapi manusia yang perlu didengar dan dipahami.
Perjalanan Nur Anita terhubung dengan identitas UMI sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah. Ilmu kedokteran gigi memberikan kompetensi, pendidikan profesi membangun tanggung jawab, sementara pengabdian membuat ilmu tersebut menemukan manfaatnya di tengah masyarakat.
Nur Anita membawa pendidikan kedokteran gigi dari Makassar ke Indonesia Timur, tempat ilmu bertemu dengan masyarakat yang menghadapi berbagai keterbatasan akses pelayanan kesehatan. Di Papua, tempat ia dibesarkan, profesinya menemukan ruang pengabdian yang personal.
"Dampak seorang dokter tidak selalu diukur dari seberapa lengkap tempat ia bekerja, tetapi dari seberapa berarti kehadirannya bagi masyarakat yang membutuhkan," ujar Nur Anita dikutip dari laman UMI, Senin, 5 Oktober 2026.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan