Ketua Dewan Kehormatan AJBI, Fasli Jalal. Foto: Talitha Islamey/Medcom.id
Ketua Dewan Kehormatan AJBI, Fasli Jalal. Foto: Talitha Islamey/Medcom.id

Tak Sekadar Angka, AJBI: Sukses Beasiswa Diukur dari Dampak

Ilham Pratama Putra • 15 Oktober 2026 16:01
Ringkasnya gini..
  • Fasli Jalal menilai jumlah penerima dan dana beasiswa belum cukup untuk mengukur keberhasilan program.
  • Evaluasi perlu mencakup kualitas manusia, produktivitas, inovasi, hilirisasi, dan mobilitas sosial.
  • AJBI mendorong penyusunan desain besar ekosistem beasiswa dan pemetaan sumber daya untuk periode 2027-2030.
Jakarta: Jumlah penerima dan besarnya dana yang disalurkan belum cukup untuk mengukur keberhasilan program beasiswa. Penyedia beasiswa perlu melihat dampaknya terhadap kualitas manusia, produktivitas, inovasi, dan mobilitas sosial masyarakat.

Ketua Dewan Kehormatan Asosiasi Jaringan Beasiswa Indonesia (AJBI), Fasli Jalal, mengatakan beasiswa perlu ditempatkan sebagai investasi strategis. Utamanya dalam pembangunan manusia dan masa depan bangsa.

“Ukuran keberhasilan beasiswa tidak boleh hanya berhenti pada jumlah penerima, berapa besarnya dana yang disalurkan, dan berapa banyaknya lulusan yang telah dihasilkan,” kata Fasli dalam Global Scholarship Summit 2026 di Jakarta, Kamis 15 Oktober 2026.
 
Belajar daring medcom
Belajar. Dok Medcom

Fasli menegaskan evaluasi program beasiswa perlu menjawab sejauh mana bantuan pendidikan tersebut menghasilkan perubahan nyata. Dampak yang dimaksud mencakup peningkatan kualitas manusia, penguatan produktivitas, penciptaan inovasi, dukungan terhadap hilirisasi, hingga mobilitas sosial.

Dengan demikian, keberhasilan program tidak hanya dilihat dari keluaran administratif, seperti jumlah penerima dan lulusan. Tetapi juga kontribusi mereka setelah memperoleh kesempatan pendidikan.

Fasli menilai pengukuran dampak menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem beasiswa nasional yang terintegrasi. Ekosistem tersebut membutuhkan keterlibatan pemerintah, dunia usaha, lembaga filantropi, dan institusi pendidikan. Lebih lanjut, Fasli mengungkapkan program beasiswa di Indonesia berasal dari berbagai sumber. Mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, perusahaan, yayasan filantropi, organisasi masyarakat, hingga mitra internasional.

Namun, penyelenggaraan program-program tersebut masih menghadapi tantangan. Misalnya lemah pada koordinasi, keterpaduan informasi, kesinambungan pembinaan, serta keselarasan antara kebutuhan pembangunan dan jenis beasiswa yang tersedia.

Karena itu, Fasli mendukung pengembangan ekosistem beasiswa melalui enam pilar penting. Di antaranya desain besar atau grand design, model kolaborasi, pemetaan kebutuhan, data, pendanaan, dan kebijakan.

"Data itu dibutuhkan untuk memperkuat perencanaan berbasis bukti. Keterbukaan informasi tetap perlu disertai perlindungan data pribadi, sementara pengukuran dampak menjadi dasar untuk menilai hasil program," ungkapnya.

Fasli menegaskan desain besar ekosistem beasiswa tidak boleh hanya menjadi dokumen konseptual. Dokumen tersebut perlu memuat prioritas, sasaran, pembagian peran, model pembiayaan, indikator keberhasilan, dan mekanisme evaluasi.

“Dokumen tersebut harus menjadi peta jalan bersama yang memuat prioritas, sasaran, pembagian peran, model pembiayaan, indikator keberhasilan, dan mekanisme evaluasi terhadap dampak dari beasiswa kita ini,” ujarnya.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan