Ilustrasi--Medcom.id
Ilustrasi--Medcom.id

Mengenal Empat Ketua MPR Era Reformasi

Pemilu MPR
Medcom • 04 Oktober 2019 09:37
Jakarta: Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) di era Reformasi bukan lagi lembaga tertinggi negara. Setelah kekuasaan Presiden Soeharto berakhir, secara bertahap posisi MPR sama derajatnya dengan lembaga utama negara lainnya.
 
Perubahan fungsi MPR ini melalui amendemen UUD 1945 dari 1999 hingga 2002 dengan tujuan memurnikan sistem presidensial. Sehingga pemilihan kepala negara dilakukan langsung oleh rakyat, bukan lagi MPR. Pada Reformasi pula MPR dilepas kewenangannya dalam membuat Garis Besar Haluan Negara atau GBHN.
 
MPR era Reformasi dimulai dari 1999 hingga saat ini, dengan empat Ketua MPR sebagai berikut.

Amien Rais (1999)


Mewakili Partai Amanat Nasional (PAN), Amien menduduki jabatan Ketua MPR melalui sistem voting dan mengalahkan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Matori Abdul Djalil. Nama Amien mencuat saat terjadi keretakan hubungan antara dirinya dan Presiden Abdurrahman Wahid pada 2000.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Keretakan semakin melebar saat Amien mengemukakan akan membentuk koalisi poros tengah bersama PDI Perjuangan dan Golkar. Ujungnya, Amien mendukung Megawati Soekarnoputri menjadi presiden jika Presiden Abdurrahman Wahid diberhentikan melalui sidang istimewa. Di masa Amien pula amendemen dimulai, yakni pada sidang istimewa di 1999, 2000, 2001 dan 2002.

Hidayat Nur Wahid (2004)


Hidayat meraih kursi kepemimpinan di MPR mewakili Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kala itu, HNW diusung Koalisi Kerakyatan bentukan PKS, Demokrat, PAN, PKB dan PPP.
 
Hidayat terkenal dengan pernyataan untuk mengadili Presiden kedua RI Soeharto tanpa kehadiran pihak tergugat. Selain itu dia juga pernah mendesak Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa haram bagi golput.

Taufiq Kiemas - Sidarto Danusubroto (2009-2014)


Taufiq terpilih secara aklamasi sebagai Ketua MPR di periode kedua kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Taufiq terkenal luwes dalam berpolitik sehingga memiliki banyak kolega dan berperan penting dalam perjalanan politik Indonesia.
 
Namun jabatan Ketua MPR tak diemban lama. Taufiq wafat pada 8 Juni 2013 di Singapore General Hospital. Politisi PDI Perjuangan Sidarto Danusubroto lantas menggantikan Taufiq dan menjabat hingga 1 Oktober 2014.

Zulkifli Hasan (2014)


Tampuk kepemimpinan MPR kembali ke Partai Amanat Nasional (PAN). Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan menjabat sebagai Ketua MPR dan gencar melakukan sosialisasi empat pilar.
 
Beberapa hal juga digagas Zulkifli saat memimpin MPR. Termasuk rekomendasi untuk mengembalikan perumusan Garis Besar Haluan Negara atau GBHN. (Shah Alam Pandu)

 

(ADN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif