Ketua Umum PPP Romahurmuziy (kiri). Foto: Medcom.id/Adin
Ketua Umum PPP Romahurmuziy (kiri). Foto: Medcom.id/Adin

Romy: Jokowi Paling Mengerti Selera Milenial

Pemilu pilpres 2019 pemilu serentak 2019
M Sholahadhin Azhar • 22 Januari 2019 16:36
Jakarta: Milenial atau generasi Y bukan memilih pemimpin berdasarkan usianya. Karakteristik pilihan mereka ditentukan oleh beberapa hal, salah satunya gaya berpakaian atau fashion.
 
"Mereka itu lihat tampilan Pak Jokowi ngetrail pakai motor, selesai. Sesederhana itu, jadi enggak pakai pusing-pusing," kata Ketua Umum PPP Romahurmuziy saat bertemu Medcom.id di kediamannya, Jakarta Timur, pekan lalu.
 
Pria yang akrab disapa Gus Romy itu menyebut, dari dua kandidat presiden, Jokowi yang paling pandai melihat karakteristik itu. Ia memberi contoh saat Jokowi berpidato di hadapan mahasiswa; mengenakan sepatu sneakers dan jaket model terbaru.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Milenial, kata Romy, tak akan fokus pada pidato Jokowi, melainkan pada apa yang dipakainya. Mereka dipastikan akan bertanya-tanya sepatu jenis apa yang dipakai atau jaketnya beli di mana.
 
"Itu yang enggak dilihat generasi x atau baby boomers. Masa milih gara-gara sepatunya. Tapi, faktanya begitu," kata Romy.
 
Hal serupa, sebutnya, terjadi saat Jokowi memenangi Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012. Eks Wali Kota Solo itu dipilih karena trend baju kotak-kotak. Romy mengatakan bahwa ini merupakan rahasia langit dan politisi harus pintar-pintar membaca selera pasar.
 
Baca: Romy: Jokowi Berhasil Memimpin Keluarganya sebelum Indonesia
 
Saat ini, kata dia, ada dua karakteristik yang dominan dalam pemilihan presiden. Pertama, sosok pemimpin berlatar belakang militer, gagah, mengendarai kuda, dan menolong orang-orang miskin.
 
"Atau orang yang merupakan bagian dari 'Oh, presiden is just my neighbour'. Tetangga sebelah rumah, enggak jauh-jauh. Keluar rumah, melihat presiden, selfie bro. Yang lagi trend begitu," kata Romy.
 
Milenial tak suka dalil
 
Lebih lanjut, Romy melihat apa yang Jokowi lakukan sangat tepat. Kepala negara bersikap apa adanya dan memberikan kesempatan pada milenial. Misalnya, berdialog dengan perwakilan mahasiswa dan hal serupa lain.
 
Romy menyebut cara itu lebih tepat sasaran daripada memberikan dalil. Atau yang lebih parah, doktrin, penghakiman, dan pesimisme. Sebab milenial suka hal yang sifatnya perspektif dan spekulatif.
 
"Mereka suka optimisme. Indonesia bubar, pasti enggak akan dipilih. Pemimpin yang memberikan harapan itu (akan dipilih), tapi kalau pemimpin yang tinggal harapan, enggak akan dipilih. Jadi mudah saja," beber Romy.
 
Ia menyebut generasi Y sangat mudah dipahami dan Jokowi mau melihat hal tersebut. Maka siap-siap kecewa bagi pencipta hoaks, sebab milenial tak akan termakan.
 

 

(UWA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi