Kontestan Pilpres 2019 Sibuk Perang Jargon
Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi. (Foto: MI/Susanto)
Jakarta: Kampanye pemilu 2019 menjadi sejarah baru bagi demokrasi Indonesia. Sepanjang empat kali pemilu presiden dan wakil presiden, musim kampanye kali ini berlangsung hampir tujuh bulan lamanya.

Sayangnya, satu bulan pertama masa kampanye belum banyak ide, gagasan atau program tersosialisasi kepada masyarakat. Kedua kubu masih sibuk menjatuhkan citra lawan.


"Kita lebih banyak disibukkan dengan perang jargon, perang slogan, tetapi defisit soal visi dan misi," ujar Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi dalam Prime Talk Metro TV, Kamis, 25 Oktober 2018.

Menurut Burhan, sebulan pertama kampanye yang sering terdengar oleh publik hanya saling serang. Masing-masing kubu berupaya melemahkan lawan dan cenderung lupa untuk menawarkan akan jadi apa Indonesia pada satu periode mendatang.

Kendati demikian, Burhanuddin memandang nilai tambah dari perang jargon antara masing-masing kubu, politik identitas yang sempat ramai pada Pilpres 2014 seperti tak terdengar gaungnya. Ia menyebut calon wakil presiden nomor urut 01 Ma'ruf Amin berkontribusi meredam isu politik identitas.

"Meskipun kiai Ma'ruf belum cukup punya kontribusi elektoral setidaknya publik merespons kehadiran beliau dengan mengurangi dosisi penggunaan isu-isu abad pertengahan," ungkapnya.





(MEL)

metro tv
  • OpsiOpsi
  • kick andyKick Andy
  • economic challengesEconomic Challenges
  • 360360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id