Direktur Riset Charta Politika Muslimin. Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
Direktur Riset Charta Politika Muslimin. Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez

Pendatang Baru di Dapil DKI Lebih Populer

Pemilu
Fachri Audhia Hafiez • 11 Februari 2019 19:25
Jakarta: Lembaga Survei Charta Politika Indonesia mencatat sejumlah temuan dalam rilis survei popularitas calon legislatif di tiga daerah pemilihan (dapil) di DKI Jakarta. Salah satunya nama-nama baru yang berlaga di pemilu legislatif 2019 menempati angka popularitas cukup tinggi.
 
Dapil DKI Jakarta 1, misalnya, nama Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi bertengger di urutan satu dengan perolehan angka popularitas 51,8 persen. Imam maju sebagai caleg dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
 
Secara beruntun dia mengalahkan sejumlah nama beken lain, seperti kader Partai Gerindra Habiburokhman, politikus PDI Perjuangan Putra Nababan, dan kader Partai NasDem Wanda Hamidah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Popularitas Ketua DPP PSI Tsamara Amany pun mengangkangi inkumben Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. Tsamara yang bertarung di dapil DKI Jakarta 2 unggul 26,4 persen, sedangkan Hidayat hanya meraup 25,3 persen.
 
Di Dapil DKI Jakarta 3, nama Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra unggul di puncak dengan perolehan 58,8 persen. Dia bahkan mengalahkan inkumben kader PDI Perjuangan Charles Honoris yang cuma memeroleh 53,0 persen.
 
Kendati mereka unggul namun tidak menjamin akan terpilih pada Pileg 17 April 2019 mendatang. Sebab, arah politik dinilai masih akan bergerak dinamis hingga dua bulan ke depan.
 
"Populer itu penting tapi ternyata popularitas tak jamin terpilih. Kemudian kedua, kalau kita lihat rata-rata caleg yang bekerja itu tidak banyak di bawah sehingga kecenderungan orang tadi lebih banyak memilih parpol," kata Direktur Riset Charta Politika Muslimin di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin, 19 Februari 2019.
 
Muslimin mengingatkan, para caleg tidak hanya menjual partainya. Mereka harus turun memperkenalkan diri secara pribadi dan juga gagasan.
 
"Jadi saya kira untuk dipilih dia bagaimana meningkatkan elektabilitas di bawah. Kedua, kenapa faktor pengenalan sangat penting karena memang di kertas pileg tidak ada foto," ucap Muslimin.
 
Survei Charta Politika Indonesia ini dilakukan 18 hingga 25 Januari 2019. Survei dilakukan melalui tatap muka atau face to face interview dengan menggunakan kuesioner terstruktur terhadap 800 di setiap dapil di DKI Jakarta.
 
Margin of error dari survei di setiap daerah pemilihan kurang lebih 3,4 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
 

(SCI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi