Terorisme. Ilustrasi: Medcom.id/Mohammad Rizal.
Terorisme. Ilustrasi: Medcom.id/Mohammad Rizal.

Penolakan Hasil Pemilu Picu Kebangkitan Sel Teroris

Pemilu terorisme pemilu serentak 2019
Theofilus Ifan Sucipto • 16 Mei 2019 13:41
Jakarta: Ketua Setara Institute Hendardi menyebut penolakan hasil Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 berpotensi membangkitkan sel teroris tidur. Teroris diprediksi bakal memanfaatkan situasi yang tidak kondusif.
 
"Narasi elite politik dan pendukungnya untuk mendelegitimasi proses dan hasil Pemilu 2019 melahirkan titik kerawanan yang membangkitkan sel tidur jaringan teroris," kata Hendardi kepada Medcom.id, Kamis, 16 Mei 2019.
 
Dia menyebut narasi yang dibangun melalui hoaks dan misinformasi bakal dimanfaatkan teroris melaksanakan operasinya. Teroris akan menggunakan situasi kaos untuk mengalihkan perhatian publik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hendardi mengajak elite politik dan publik memelihara stabilitas sosial-politik. Caranya, kata dia, menahan diri tidak melakukan tindakan yang dapat meningkatkan kerawanan keamanan dan ketertiban masyarakat.
 
"Hentikan produksi hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi sebelum, saat, dan pascapengumuman resmi hasil Pemilu 2019 oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum)," tegas dia.
 
Sebelumnya, Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo menyebut teroris terbagi menjadi dua tipe, yaitu terstruktur dan tidak terstruktur. Contoh kelompok teroris terstruktur ialah Jamaah Ansharut Daulah (JAD)
 
Sementara teroris yang tidak terstruktur biasa menyendiri (lone wolf) dan menjadi bagian sel tidur teroris. Mereka yang tidak terstruktur biasanya terpapar paham radikalisme melalui media sosial dan aktif mengikuti alur komunikasi di dunia digital.
 
"Mereka bisa melakukan tindakan-tindakan amaliah dan serangan langsung pada aparat keamanan," kata Dedi di Gedung Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin, 6 Mei 2019.
 
Baca: Terduga Teroris Tertangkap di Jateng-Jatim Pernah ke Suriah
 
Serangan tersebut, terang dia, bisa menggunakan senjata tajam hingga bom. Bom yang digunakan pun biasanya dirakit sendiri untuk menyerang aparat keamanan.
 
Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 juga terus bekerja dengan keras untuk mengantisipasi serangan teroris. Densus 88 juga terus memonitoring secara intensif pergerakan mereka.
 
"Kami juga mewaspadai lone wolf dan sel terpisah yang tidak terstruktur yang akan melakukan aksi-aksi terorisme," ucap dia.
 

(OGI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif