Pemilu 2019 (Foto:Antara/Aswaddy Hamid)
Pemilu 2019 (Foto:Antara/Aswaddy Hamid)

Semarak Pemilu 2019, Antusiasme, Pujian, dan Masalah

Pemilu pemilu serentak 2019
Gervin Nathaniel Purba • 29 April 2019 19:30
Jakarta: Pemilu 2019 tercatat dalam sejarah Indonesia sebagai pemilu serentak pertama. Secara umum, pemilu yang mencakup pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan anggota legislatif (pileg) itu berjalan damai dan lancar.
 
Kesuksesan terselenggaranya Pemilu 2019 bahkan menuai pujian dari sejumlah negara, di antaranya datang dari Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Moazzam Malik. Melalui akun Twitter pribadi, ia memuji pelaksanaan pemilu di Indonesia yang berjalan aman.
 
Head of Media and Communication Kedutaan Besar Inggris, John Nickell, juga terkesan dengan teraturnya pelaksanaan Pemilu 2019. Dia menyaksikan langsung proses Pemilu 2019 di TPS Kebon Kacang. Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Zuhair Al Shun, juga mengapresiasi dengan menyatakan masyarakat Indonesia memilih tanpa tekanan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pujian tersebut membuat Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) terharu. Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik mengapresiasi kinerja Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang berhasil mendesain Pemilu dengan sangat kompleks sehingga menjadi sorotan dunia.
 
"Secara umum, jujur saya harus mengakui dari berbagai negara luar, mereka kasih dua jempol, maka dari itu komnas HAM memberikan empat jempol," ujar Taufan.
 
Kesuksesan Pemilu 2019 bisa dilihat dari besarnya antusiasme masyarakat dalam menyalurkan hak pilih. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto mengatakan partisipasi pemilih mencapai 80,9 persen, melebihi target yang ditetapkan KPU sebesar 77,5 persen.
 
Semarak Pemilu 2019, Antusiasme, Pujian, dan Masalah
Petugas KPPS mengenakan pakaian adat di TPS 11 Kelurahan Liluwo, Kota Gorontalo, Gorontalo (Foto:Antara/Adiwinata Solihin)
 
Antusiasme ini bisa dilihat di berbagai daerah. Salah satunya, Jawa Tengah. Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Tengah Yulianto Sudrajat mengatakan, partisipasi warga untuk mencoblos mencapai 80 persen.
 
Besarnya partisipasi pemilih juga bisa dilihat di luar negeri. Belanda, misalnya. Negeri Kincir Angin itu mencatat peningkatan drastis. Pada 2014, hanya 2.328 orang. Melonjak menjadi 4.530 orang pada Pemilu 2019.
 
Semarak Pemilu 2019, Antusiasme, Pujian, dan Masalah
Mendagri Tjahjo Kumolo (Foto:MI)
 
Australia juga mencatatkan minat pemilih yang besar. "Contoh di Australia. DPT-nya (daftar pemilih tetap) hampir 25 ribu. tapi yang punya paspor hampir 40 ribu. Itu meggunakan (hak suara) semua," ujar Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo.
 
Tjahjo mengapresiasi kinerja tim KPU luar negeri. Menurutnya, kerja seperti itu harus diteruskan untuk tetap meningkatkan minat mencoblos kepada WNI yang ada di luar negeri.
 
Menyisakan Masalah
 
Tak ada yang sempurna. Begitu juga dengan Pemilu 2019. Meski berjalan damai dan lancar, Pemilu 2019 menyisakan sejumlah masalah.
 
Sebut saja, di Osaka (Jepang), Sydney (Australia), Hong Kong, dan Kuala Lumpur (Malaysia) sempat ricuh karena masalah pemilih yang membeludak dan ditutupnya TPS sebelum semua orang mencoblos.
 
Pemilu 2019 di Papua sempat ditunda. Hal ini terjadi karena logistik pemilu telat datang ke TPS 043, Kelurahan Argapura, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Papua.
 
Tak hanya itu, petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) banyak yang meningal. Mereka gugur saat menyukseskan gelaran pesta demokrasi.
 
Data dari KPU per 25 April 2019, sebanyak 255 petugas KPPS wafat. Mereka meninggal diduga karena kelelahan, sakit, dan ada juga yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas.
 
Meskipun mendapat pujian dari negara asing, model pemilu serentak ini tampaknya perlu dievaluasi ke depannya agar tidak menelan banyak korban jiwa.
 
Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) saat ditemui di Rumah Dinas Wakil Presiden, Jalan Diponegoro, Jakarta, beberapa waktu lalu. JK berharap pilpres dan pileg tak lagi digelar serentak.
 
"Tentu harus evaluasi yang keras. Salah satu hasil evaluasi, dipisahkan antara pilpres dengan pileg supaya bebannya jangan terlalu berat. Termasuk juga caleg-caleg itu tertutup. Pilih partai saja, sehingga tidak terjadi keruwetan menghitung," kata JK.
 
Semarak Pemilu 2019, Antusiasme, Pujian, dan Masalah
Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan (Foto:Medcom.id/Husen Miftahudin)
 
Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan juga berharap sistem pemilu serentak dikaji ulang. Alasannya, pemilu serentak membuat beban kerja petugas kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) menjadi lebih berat dan berkali lipat.
 
"Konsekuensi logis dari pemilu serentak kan volume pekerjaan menjadi sangat meningkat. Semoga ini menjadi masukan bagi pembuat undang-undang untuk memformulasikan sistem pemilu untuk pemilu berikutnya," ujar Wahyu.
 
Terlepas dari permasalahan tersebut, partisipasi semua pihak dalam penyelenggaraan Pemilu 2019 patut diapresiasi karena sudah mengorbankan banyak waktu dan tenaga untuk nasib bangsa ini lima tahun ke depan.

 

(ROS)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif