Direktur Eksekutif Indikator Politik Burhanuddin Muhtadi. Foto: MI/Rommy Pujianto
Direktur Eksekutif Indikator Politik Burhanuddin Muhtadi. Foto: MI/Rommy Pujianto

Hitung Cepat Jadi Alat Kontrol Kecurangan Pemilu

Pemilu pilpres 2019 pemilu serentak 2019
Lukman Diah Sari • 20 April 2019 23:16
Jakarta: Direktur Eksekutif Indikator Politik Burhanuddin Muhtadi menjelaskan, metodologi hitung cepat dalam pelaksaan Pemilu bisa menjadi alat kontrol dugaan kecurangan yang dilakukan bertingkat. Sementara, informasi kemenangan versi hitung cepat adalah bonus.
 
“Kita Indonesia bukan hanya kampanye lama, proses hitung juga lama. KPU baru deklarasi 22 Mei, karena hitungnya bertingkat. Dari PPS, PPK, kabupaten, provinsi, nasional,” bebernya saat Expose Data Hasil Quick Count Pemilu 2019 di kawasan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 20 April 2019.
 
Sementara, hitung cepat bisa segera tayang karena langsung dilakukan di TPS. Data perolehan suara setelah didapat di TPS menjadi sampel, kemudian dikirim ke pusat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Jadi ada data pendamping KPU, jadi KPU bisa melihat ada pencuri suara di hitungan yang bertingkat itu,” jelasnya.
 
Dia beranggapan, bila tak dilakukan hitung cepat maka akan banyak klaim kemenangan. Sehingga berpotensi terjadi kegamangan dan berbahaya.
 
“Dengan adanya hitung cepat, maka kita bisa cepat move on,” katanya.
 
Bila kelak ada perbedaan data di KPU dengan hitung cepat, bisa diduga kesalahan ada di KPU atau hitung cepat. Sehingga bisa saling dicek.
 
“Kalau semangatnya sama, pemilu jurdil sekian klaim bisa dipertarungkan, sekarang mana argumen ilmiah yang paling kuat untuk temukan klaim paling benar,” terangnya.
 

(DMR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif