Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Didi Irawadi Syamsuddin - Medcom.id
Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Didi Irawadi Syamsuddin - Medcom.id

Demokrat Tuding Kasus Andi Arief Didramatisasi

Pemilu pilpres 2019 hoax
05 Januari 2019 15:08
Jakarta: Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Didi Irawadi Syamsudin menilai Komisi Pemilihan Umum (KPU) terlalu berlebihan menanggapi kasus tujuh kontainer surat suara tercoblos. Apalagi, kini kasus digiring ke sosok politikus Partai Demokrat Andi Arief sebagai penyebar hoaks.

“Pemerintah jangan baper. Isu Andi Arief terlalu didramatisir” ujar Didi di kawasan Jakarta Pusat, Sabtu, 5 Januari 2018.

Didi bilang Andi Arief tidak bisa disalahakan. Andi justru mengingatkan pihak penyelenggara agar lebih waspada. Kasus ini, kata dia, juga mesti jadi peringatan bagi KPU ke depan untuk lebih berhati-hati dalam proses pemilu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Dia menilai sikap KPU terlalu sensitif dalam menanggapi isu yang beredar di masyarakat. 
KPU harusnya menjadi penengah dan netral menghadapi berbagai isu seputar pemilu. Ia mencontohkan, pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, kebal terhadap kritik dan masukan. Saat itu, masyarakat dinilai lebih aktif mengkritik pemerintah. Salah satunya saat pembakaran foto SBY di gedung DPR yang terjadi pada tahun 2004 silam.

(Baca juga: TKN Jokowi-Ma'ruf Enggan Mengikuti 'Permainan' Andi Arief)

Sebelumnya, beredar kabar ada tujuh kontainer di Tanjung Priok, Jakarta Utara, yang masing-masing berisi 10 juta surat suara tercoblos untuk pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Kabar bohong itu tersiar melalui rekaman suara di media sosial serta melalui tulisan pesan berantai. 

Kabar itu semakin ramai setelah Andi Arief ikut mencuitkan info itu melalui akun Twitter pribadinya @AndiArief_. 

"Mohon dicek kabarnya ada 7 kontainer surat suara yang sudah dicoblos di Tanjung Priok. Supaya tidak fitnah harap dicek kebenarannya karena ini kabar sudah beredar," kicau Andi. 

Informasi itu dicuitkan Andi pada Rabu, 2 Januari 2019 sekitar pukul 20.05 WIB. Namun, beberapa saat kemudian, Andi menghapus tulisannya tersebut.

KPU dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) telah memastikan kabar itu palsu setelah mengecek langsung ke lapangan. KPU dan Bawaslu pun melaporkan kasus penyebaran informasi bohong ini ke polisi. (Pudja Lestari)


 


(REN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi