Ilustrasi hoaks--Medcom.id
Ilustrasi hoaks--Medcom.id

Pilkada 2020 Diprediksi Masih Diwarnai Hoaks

Pemilu PIlkada Serentak 2020
Faisal Abdalla • 21 Agustus 2019 08:19
Jakarta: Manajer Hubungan Pemerintah Facebook Indonesia, Noudhy Valdryno, memprediksi berita bohong (hoaks) masih mewarnai pemilihan kepala daerah serentak (Pilkada) 2020. Berkaca pada Pemilu 2019, konten hoaks akan banyak bermain di area abu-abu.
 
"Kita belum selesai 2019, namun sudah siap-siap lagi 2020, tantangannya masih sama, yaitu bagaimana kita memilah konten itu hoaks atau bukan," kata Noudhy dalam dalam focus group discussion 'Hoax dalam Pemilu 2019' di Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa, 20 Agustus 2019.
 
Noudhy mengatakan pihaknya sudah bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan untuk menekan hoaks terkait Pemilu 2019. Sebab, pemilu di Indonesia memang menjadi salah satu perhatian penting dari Facebook.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain dengan penyelenggara pemilu, Facebook selaku salah satu platform media sosial terbesar di dunia, termasuk Indonesia menjalin kerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Cyber Crime Bareskrim Mabes Polri, hingga Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Facebook juga menggandeng lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam memantau konten hoaks.
 
Noudhy mengatakan kesulitan terbesar dalam mengatasi masalah ini ialah mengidentifikasi apakah suatu konten mengandung unsur hoaks atau tidak. Dia mencontohkan beberapa waktu lalu sempat beredar hoaks yang menarasikan ada anggota Brimob berasal dari Tiongkok.
 
Namun dalam hoaks yang beredar itu, pembuat tidak langsung menegaskan kalau anggota Brimob itu warga negara Tiongkok. Melainkan dinarasikan seolah-olah pembuat hoaks bertanya kepada publik apakah anggota Brimob yang dimaksud memang warga Tiongkok.
 
"Permasalahannnya konten-konten yang masuk ke ranah abu-abu seperti itu saya yakin sekali, ini pandangan pribadi saya, konten-konten itu dibuat oleh orang-orang paham regulasi. Jadi mereka tahu kalau misalnya saya sebut ini polisi impor dari Tiongkok, pasti langsung diturunkan karena misinformasi," jelasnya.
 
Dia pun memprediksi tantangan yang dihadapi pemangku kepentingan masih sama pada pilkada mendatang. Hanya kemungkinan konten-konten hoaks yang beredar bersifat lokal.
 
"Itu yang menjadi kekhawatiran dan fokus kita ke depan melihat Pilkada 2020. Bagaimana kita bisa memilah antara konten ini dan menentukan kebenaran tersebut," ujarnya.
 

(AZF)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif