Wakil Ketua TKN-KIK, Abdul Kadir Karding. Foto: Medcom.id/Adin.
Wakil Ketua TKN-KIK, Abdul Kadir Karding. Foto: Medcom.id/Adin.

Jokowi Beri Bukti Konkret, Prabowo Sibuk Retorika

Pemilu pilpres 2019 Jokowi-Ma`ruf Prabowo-Sandi
Dian Ihsan Siregar • 18 Januari 2019 14:58
Jakarta: Calon presiden (capres) Jokowi diniai lebih memberi bukti konkret untuk menjadi presiden, dibanding capres Prabowo Subianto yang sibuk melakukan retorika semata. Hal dalam debat pertama.
 
"Tidak sukar menilai siapa pihak yang unggul dalam debat capres semalam. Parameternya sederhana, siapa di antara kedua kontestan yang sungguh-sungguh menjadikan visi misi kampanyenya sebagai sikap hidupnya dengan yang hanya menggunakan visi misi sebagai bahan retorika politik demi mencapai kekuasaan," kata Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf, Abdul Kadir Karding dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 18 Januari 2019.
 
Dia menyebutkan, terkait isu penyetaraan hak bagi kelompok difabel, Jokowi secara konkret menyatakan pemerintah sudah dan akan terus berupaya mewujudkannya. Bukti nyatanya sudah terlihat dari pemberian bonus yang sama besarnya bagi para atlet berprestasi Asian Paragames dan Asian Games.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kemudian, kata dia, saat Jokowi menjelaskan langkah konkret, kubu Prabowo justru memberi jawaban di luar konteks. Mereka menjadikan isu ekonomi sebagai solusi mengatasi masalah diskriminasi bagi kaum difabel dan bahkan sebagai solusi mengatasi terorisme.
 
"Padahal riset paling mutakhir menunjukkan fakta bahwa terorisme bukan perkara kesejahteraan. Sejumlah pelakunya bahkan berasal dari keluarga kelas menengah. Ibarat pepatah, retorika Prabowo Sandi itu jaka sembung naik ojek, enggak nyambung jek," jelas dia.
 
Terkait topik korupsi, Karding menegaskan, kubu Jokowi jauh lebih unggul. Jokowi melihat korupsi sebagai persoalan mentalitas dan penyelesainnya harus dilakukan dengan sistem mulai dari rekruitmen pegawai dan pejabat negara yang berasaskan meritokrasi hingga efisiensi birokrasi.
 
"Sementara Prabowo justru ingin menaikkan gaji para pejabat sebagai solusi mengatasi korupsi. Ia menihilkan kenyataan bahwa banyak pejabat yg terjerat korupsi adalah mereka yang punya harta kekayaan fantastis," ungkap dia.
 
Baca: Visi Misi Prabowo-Sandi Tak Konsisten
 
Jokowi, lanjut dia, juga memberi contoh bagaimana dia membangun kultur anti korupsi kolusi dan nepotisme (KKN) di lingkungan keluarganya. Hal itu terbukti dari anaknya yang tidak lolos tes CPNS dan tidak ada yang bermain dalam proyek negara. Sehingga, dia relatif tidak memiliki beban untuk menjalankan sekaligus mengontrol roda pemerintahan yang bersih dan baik.
 
"Saya tidak perlu menyinggung apakah Prabowo-Sandiaga melakukan hal yang sama dengan Jokowi, biarlah publik yang menilai sendiri rekam jejak karir dan bisnis mereka di masa lalu. Yang jelas, Prabowo sebagai ketua umum partai turut berperan dalam menandatangani lolosnya mantan napi korupsi sebagai caleg-caleg partainya," terang dia.
 
Dia menambahkan, topik terkait kesetaraan hak bagi perempuan, Jokowi pun sudah secara kongkret menjalankannya, dia memberi porsi yang besar kepada perempuan untuk mengisi pos-pos penting di kabinetnya. Sedangkan Prabowo, sebagaimana bisa tampak dalam struktur kepengurusan partainya sangat kecil memberikan porsi peran terhadap kaum perempuan.
 
Dengan cara penyampaian yang lebih konkret dan tidak abstrak dalam menerapkan visi-misi, maka membuat Jokowi-Ma'ruf lebih tenang dan saling melengkapi dalam argumentasi. Kubu Prabowo hanya mengandalkan retorika, tampak panik dan gelagapan saat menanggapi sejumlah pertanyaan kritis.
 
"Dati empat tema debat yang diusung KPU terkait hukum, penegakkan HAM, korupsi, dan terorisme, saya memastikan Jokowi-Ma'ruf menang dari pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno," tutup dia.
 

 

(FZN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif