Diskusi 'Menakar Kapablitas Capres-Cawapres dalam Perspektif Media Massa'. Foto: Medcom.id/Lukman Diah Sari
Diskusi 'Menakar Kapablitas Capres-Cawapres dalam Perspektif Media Massa'. Foto: Medcom.id/Lukman Diah Sari

Prabowo Dianggap Sengaja 'Menyerang' Media

Pemilu pilpres 2019 Jokowi-Ma`ruf Prabowo-Sandi
Lukman Diah Sari • 25 Januari 2019 19:34
Jakarta: Anggota Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Tri Agung Kristanto menilai, pernyataan calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto ke media yang memojokan adalah salah satu strategi kampanye. Pasalnya, Prabowo bukan media darling seperti lawannya, Joko Widodo.
 
"Kalau Prabowo mengikuti (Jokowi), ya dia follower. Prabowo harus cari cara lain," ujar Agung dalam diskusi 'Menakar Kapablitas Capres-Cawapres dalam Perspektif Media Massa' di Pakubuwono, Jakarta, Jumat, 25 Januari 2019.
 
Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas itu menuturkan, data yang dikumpulkan Kompas menunjukkan berita soal Prabowo pertama kali muncul pada 7 Mei 1983. Sejak 7 Mei 1983 itu, sebanyak 3.535 berita terkumpul soal Prabowo hingga kini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tapi itu bukan karena (sosok) Pak Prabowo-nya. Tapi karena dia menjadi menantu Presiden Soeharto," jelasnya.
 
Berbeda dengan Jokowi, menurut dia, nama Joko Widodo awalnya sangat sulit dicari. Namun, saat menambahkan kata kunci 'Solo' di kolom pencarian, baru bisa ditemukan. Pemberitaan soal Joko Widodo muncul pertama kali pada 13 April 2014.
 
Sebanyak, 21.587 entri berita muncul soal Jokowi hingga kini. "Berita Jokowi muncul pertama kali karena dia pengusaha yang berbicara soal ekpor mebel dari Jawa Tengah. Ini menunjukkan sosok dia (Jokowi) kuat," bebernya.
 
Baca:Prabowo Sebut Jurnalis Antek Penghancur NKRI
 
Dari kumpulan berita tersebut, dapat dilihat bahwa Jokowi memang telah menjadi media darling. Selain itu, Jokowi berhasil menjadikan dirinya objek pemberitaan melalui sosoknya.
 
Sementara untuk pasangan masing-masing capres, yakni Ma'aruf Amin dan Sandiaga Salahuddin Uno justru terbalik. Tercatat, berita soal Sandiaga muncul pertama kali pada 7 November 1995 dengan jumlah entri berita 1.160 hingga kini.
 
Sedangkan pemberitaan Ma'aruf muncul pertama kali pada 8 Desember 1991. Namun, entri berita Ma'ruf hanya 30 berita. "Yang menarik, Sandi namanya muncul bukan sosok, tapi karena keluarga. Peran keluarga sangat penting dalam konstestasi politik dan media," jelasnya.
 
Baca:Prabowo Diingatkan Besar Karena Media
 
Dia mencontohkan, orang yang paling bisa memanfaatkan media adalah Wapres Jusuf Kalla saat rezim Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kala itu, JK selalu membuat acara pada hari Sabtu dan Minggu, di mana pewarta tak ada berita.
 
"Itu bagian strategi media. Prabowo jadi penyerang media, kalau saya mengatakan ini strategi kampanye, karena Jokowi sudah jadi media darling," jelasnya.
 

 

(DMR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif