Peneliti Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI) Mouliza Donna. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez.
Peneliti Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI) Mouliza Donna. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez.

Belajar dari Politik Antijenuh Nurhadi-Aldo

Pemilu pilpres 2019
Fachri Audhia Hafiez • 25 Januari 2019 08:17
Jakarta: Masyarakat yang dominan mengikuti perkembangan politik Tanah Air mulai mencapai titik jenuh. Ini terbukti dari antusiasme masyarakat yang menerima kehadiran pasangan capres-cawapres fiktif, Nurhadi-Aldo.
 
"Mereka (Nurhadi-Aldo) mengalihkan isu, dan itu berhasil. Karena masyarakat lelah dengan pemberitaan mana yang benar, mana yang salah," kata peneliti Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI) Mouliza Donna di kawasan Slipi, Jakarta Barat, Kamis, 24 Januari 2019.
 
Dia mencontohkan seperti halnya saat naik kendaraan umum. Donna mengaku sering ditanyakan mengenai harus memilih siapa saat gelaran Pemilu 2019 nanti.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Berarti kan masyarakat jadi bingung dengan berita sekarang, mana yang betul. Ketika ada politik lucu-lucuan ini mereka justru happy di situ," ucap Donna.
 
Baca juga: KPU: Nurhadi-Aldo Beri Warna Baru
 
Kendati demikian, tidak mungkin mengelola suatu kondisi perpolitikan hanya dengan sebuah dagelan. Fenomena ini, lanjut Donna, perlu diperhatikan oleh penyelenggara pemilu maupun partai politik (parpol). Sebab, parpol bertanggung jawab atas pendidikan politik kadernya.
 
Belajar dari Politik Antijenuh Nurhadi-Aldo
(Pasangan calon presiden dan wakil presiden fiktif Nurhadi-Aldo. Foto: Akun Twitter @nurhadi_aldo)
 
Dia juga meminta agar setiap peserta pemilu mencapai kedewasaan politik. Usai pemilu yang digelar 17 April 2019 dan sudah ada penetapan resmi, masyarakat tak lagi dipertontonkan dengan permainan politik antarkubu.
 
"Setelah penetapan hasil, ya kembali lagi bersatu. Karena esensinya di situ dan supaya masyarakat enggak lelah gitu loh. Masyarakat sudah capek dengan Pemilu 2014, kemudian 2017 (pemilihan gubernur) di Jakarta, lalu begitu lagi muncul 2019," ucap Donna.
 
Baca juga: Erick Sebut Masyarakat Perlu Hiburan Politik
 
Nurhadi merupakan capres dengan nomor urut 10 yang dipasangkan dengan tokoh fiktif, Aldo. Sebagai pasangan, keduanya mengusung 'Koalisi Indonesia Tronjal Tronjol Maha Asyik'.
 
Pasangan yang disingkat 'Dildo' ini menjadi pembicaraan dan viral di media sosial. Bahkan, warganet menyebut Nurhadi-Aldo sebagai kandidat capres-cawapres alternatif.
 
Nurhadi-Aldo diciptakan oleh sejumlah anak muda. Mereka merasa gerah dengan kampanye hitam yang banyak terjadi dalam perpolitikan Indonesia.
 

(HUS)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif