Pengamat: Masa Kampanye Lebih Banyak Diisi Olok-olok

Kautsar Widya Prabowo 21 November 2018 13:00 WIB
pilpres 2019pemilu serentak 2019
Pengamat: Masa Kampanye Lebih Banyak Diisi Olok-olok
Peneliti politik dari Explosit Strategic, Arif Susanto--Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo.
Jakarta:Peneliti politik dari Explosit Strategic, Arif Susanto, menilai dua bulan perhelatan kampanye politik saat ini menyisakan persoalan pelik. Hal tersebut terlihat dengan kampanye politik yang mengolok-olok.

"Masa kampanye lebih banyak diisi olok-olok politik antar-kontestan, yang menghasilkan kegaduhan dan tidak mencerdaskan. Padahal, disebut oleh UU Pemilu bahwa kampanye merupakan bagian dari pendidikan politik ," ujarnya dalam diskusi Kampanye Nyinyir dan Gugat-Menggugat di Tahun Politik”, di D Hotel, Jakarta Pusat, Rabu, 21 November 2018.


Arif melihat masing-masing kubu baik pendukung Joko Widodo-Maruf Amin maupun Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, saling menjatuhkan satu dengan yang lainnya. Gaya politik ini justru akan memperkeruh situasi demokrasi Indonesia, dimana narasi dangkal dan cenderung emosional.

"Penyampaian pesan-pesan superfisial, yang cenderung dangkal, tidak substansial, bahkan cenderung mengada-ada. Kemudian pesan-pesan emosional yang menunjukkan kegeraman atau mengarah pada agitasi," terangnya.

Baca: Dua Bulan Kampanye Masih Didominasi Gimik

Selain itu, gaya politik dengan mengolok-olok, terlihat minim data saat menyampaikan narasi. Sehingga, hanya fokus dalam memukul lawan politiknya. "Kritik yang tidak disertai data akurat, sekadar untuk memukul lawan. Dan insinuasi untuk menyinggung lawan lewat pesan-pesan yang sumir," sambungnya.

Sebelumnya, Jokowi gemas dana kelurahan yang hendak digelontorkan pemerintah ditarik menjadi isu politik. Jokowi meminta masyarakat tak terseret isu yang dilontarkan para politikus.

"Itulah kepandaian para politikus, memengaruhi masyarakat. Hati-hati. Saya titip ini, hati-hati. Hati-hati banyak politikus yang baik-baik, tapi juga banyak politikus yang sontoloyo," kata Jokowi di Lapangan Bola Ahmad Yani, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa, 23 Oktober 2018.

Sementara itu, peserta pemilu nomor urut dua Sandiaga Uno menyebut harga sejumlah bahan pokok, salah satunya tempe, terus meningkat. Menurut Sandiaga Uno, karena harganya meningkat, ukuran tempe saat ini setipis kartu ATM.



(YDH)

metro tv
  • OpsiOpsi
  • kick andyKick Andy
  • economic challengesEconomic Challenges
  • 360360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id