Partai Islam Dinilai Gagal Manfaatkan Momentum
Suasana diskusi di Populi Center, Slipi, Jakarta Barat, Kamis (22/11). Foto: Medcom.id/Lukman Diah Sari
Jakarta:Partai politik berbasis agama Islam dinilai gagal memanfaatkan momentum menggaet pemilih muslim. Padahal, pemilih musim dipercaya bisa meraup keuntungan dalam Pemilu 2019.

Peneliti Populi Center Ade Ghozaly mengatakan, saat ini beberapa partai politik  gagal memanfaatkan momentum tersebut. Padahal, menurut dia, isu keagamaan saat ini meningkat jelang pemilu.


"Pilihan tren berbasis Islam menurun dari pemilu ke pemilu. Tapi, isu keagamaan meningkat saat pemilu, malah laku jadi komoditi untuk dijual," ucap Ade dalam diskusi Menggaet Pemilih Muslim oleg Forum Populi Center di Slipi, Jakarta Barat, Kamis, 22 November 2018.

Baik pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, sama-sama didukung partai berbasis Islam. Di kubu petahana ada Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sementara di kubu oposisi terdapat Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN). 

"Tapi kalau melihat hasil temuan lembaga survei yang paling bisa mengambil meomentum adanya partai Islam hanya PKB. Dia sebelum penetapan 6,6 persen, setelah penetapan naik 10,3 persen. PKS malah penurunan yakni 3,6 persen. Setelah penetapan 3,0 persen," ujarnya. 

Dia menerangkan, kegagalan partai yang malah menurun setelah penetapan karena seringnya partai Islam hanya bermain isu. Namun, parpol Islam tak berani melontarkan narasi program yang keberpihakan kepada umat. 

"Kelompok di luar struktur parlemen dan koalisi acap kali vokal, padahal di balik itu ada agenda yang menguntungkan pasangan calon," jelasnya. 

Dia menanggapi, suara partai Islam turun namun isu agama malah makin kuat tak lepas karena isu agama yang memiliki sensitivitas tinggi. Sayangnya, sentimen itu malah dimainkan oleh para elite.

Baca: Kiai Said Tegaskan NU Tak Berpolitik

"Sentimen itu dimainkan kelompok elite yang paham karakter muslim Indonesia yang reaktif isu agama," ujarnya. 

Sementara itu, pengamat politik UIN Syarief Hidayatullah Ali Munhanif menilai, warisan politik 212 pada 2017 masih membingkai cara berpikir elite politik. Hal ini tak hanya berasal dari partai politik, tapi juga non partai. 

"Saya kira, jika ini diteruskan maka tidak produktif untuk politik Islam masa depan," ujarnya.

Agenda partai, khususnya yang bebasis Islam dalam waktu dekat harus berani melepas identitasnya. Sehingga, mereka bisa menjadi partai yang perhatian pada masalah kesatuan, mengindari konflik sosial, dan transformasi soal pendidikan juga kemiskinan.

Baca: Isu Islam Tak Efektif Gaet Pemilih Muslim

Menurut dia, hal-hal tersebut justru menjadi tantangan riil bangsa. Parpol Islam, seharusnya juga tak perlu lagi menggoreng isu-isu sektarian.

"Tapi apa yang menjadi problem government. Kita harus terlibat langsung dengan isu pengentasan kemiskinan, menjaga kemaanan, dan seterusnya," ungkapnya. 

Bungkusan program oleh partai berbasis Islam juga harus mendorong para capres dan cawapres untuk memiliki data yang bisa diakses. Seperti kemiskinan, harga kebutuhan, posisi Indonesia dalam ranking dunia, dan masalah olahraga.

Baca: Amien Rais Dianggap Lupa Khitah Muhammadiyah

"Ketika aspek itu layak diberi perhatian karena kurangnya performa Indonesia di internasional, kita bisa meng-addres isu itu bagaimana membuat strategi misal mendorong PSSI berjaya dalam kontes internasional. Di tingkat itu ada usaha transformasi di masyarakat," ujarnya. 



(DMR)

metro tv
  • OpsiOpsi
  • kick andyKick Andy
  • economic challengesEconomic Challenges
  • 360360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id