Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid. Foto: MI/Susanto.
Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid. Foto: MI/Susanto.

MUI Sesalkan Kericuhan pada Aksi 22 Mei

Pemilu Demo Massa Penolak Pemilu
Cindy • 23 Mei 2019 12:12
Jakarta: Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyesalkan aksi demo menolak hasil pemilu berujung ricuh. Akibat peristiwa itu enam orang meninggal dan banyak korban luka.
 
"MUI menyampaikan takziah dan belasungkawa, semoga almarhum khusnul khatimah dan kepada keluarga korban diberikan kekuatan serta kesabaran. Untuk para korban yang sakit dan luka-luka, semoga segera pulih kembali dan diberikan kesembuhan," kata Wakil Ketua Umum MUI Zainut, Tauhid Sa'adi di Jakarta, Kamis, 23 Mei 2019.
 
Menurutnya, aksi demo yang berujung kerusuhan tersebut merupakan tindakan brutal dan anarkis. Aksi bertujuan menciptakan kekacauan dan konflik di masyarakat dengan provokasi dan adu domba di antara elemen bangsa.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Aksi kerusuhan yang dilakukan pada bulan Ramadan sangat disesalkan, karena telah menodai kesucian bulan yang sangat dimuliakan oleh umat Islam dan hukumnya haram," ucapnya.
 
MUI yakin kerusuhan bukan dilakukan para pengunjuk rasa, tetapi sekelompok orang yang ingin Indonesia hancur. MUI mengapresiasi aparat keamanan yang menangkap pelaku kerusuhan serta mengusut aktor intelektual di balik aksi tersebut.
 
"MUI memberikan apresiasi terhadap aparat keamanan yang bertindak cepat menangkap para pelaku. Sehingga tidak menimbulkan fitnah, saling tuduh dan curiga di antara elemen masyarakat," tutur Zainut.
 
MUI mengimbau masyarakat tetap tenang dan tak terprovokasi. Elite politik, tokoh agama dan masyarakat juga diminta mengembangkan narasi kesejukan dan mendorong persaudaraan.
 
"Tetap mengedepankan sikap santun, damai, dan akhlakul karimah dalam menyampaikan tuntutan aspirasinya. Tinggalkan narasi provokatif dan penuh kebencian yang dapat memecah belah persatuan bangsa," ujar Zainut.
 
Tak hanya itu, pihaknya juga mengapresiasi langkah calon presiden dan calon wakil presiden, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang memilih jalur hukum dalam menyelesaikan sengketa pemilu. Keduanya dinilai memiliki kesadaran konstitusional dan demokrasi yang sehat, dewasa serta bermartabat.
 
"Harapan kami sikap kenegarawanan tersebut ditindaklanjuti dengan membangun komunikasi, dialog dan silaturahmi antartokoh bangsa, sehingga dapat merajut kembali persaudaraan hakiki demi terwujudnya keutuhan dan kesatuan bangsa," pungkasnya.
 

(AZF)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif