Penyampaian pernyataan pemuka enam agama. Foto: Medcom.id/Candra Yuri Nuralam.
Penyampaian pernyataan pemuka enam agama. Foto: Medcom.id/Candra Yuri Nuralam.

Pemuka Agama Kompak Serukan Perdamaian

Pemilu pemilu serentak 2019
Candra Yuri Nuralam • 02 Mei 2019 19:40
Jakarta: Enam pemuka agama meminta masyarakat untuk segera bergerak dari Pemilihan Umum (Pemilu). Publik diminta kembali rukun seperti sediakala.
 
Ketua Bidang Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Yusnar Yusuf meminta masyarakat tidak bertikai usai pesta demokrasi. Umat diharap kembali ke jalan Allah untuk menghindari permusuhan.
 
"MUI memberi naungan, tausiah, kepada umatnya senantiasa untuk jangan sampai konflik, karena konflik akan menimbulkan dendam dan itu dilarang Islam," kata Yusnar di Cafe Tjikini Lima, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis 2 Mei 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Philip K Wijaya dari Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) berharap masyarakat kembali beraktivitas seperti sedia kala. Menurut Philip, siapa pun yang menang adalah yang terbaik bagi Indonesia dan merupakan saudara sebangsa.
 
"Kita semua telah melalui pesta demokrasi. Harusnya bersuka cita memilih seorang pimpinan untuk membawa kita bangsa Indonesia menuju masa depan yang lebih sukses, terjaga kedaulatan kita," ujar Philip.
 
Nyoman Udayana dari Parisada Hindu Dharma Indonesia meminta segala elemen masyarakat kembali merangkul persatuan. Usai pemilu, dia berharap masyarakat kembali bersapa lagi seperti biasa yang terjadi sesama tetangga dan saudara.
 
"Pemilu adalah suatu hak dan kewajiban bagi warga negara. Pascapemilu ini marilah kita semua bergandengan tangan bahwa kita semua tetap bersaudara. Kami kembali lagi pada swadharma, kembali. Petani kembali petani," ucap Nyoman.
 
Sementara itu, Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) Budi S Tanuwibodo meminta publik tetap berpikiran maju usai pemilu. Publik diminta meneladani tujuh presiden sebelumnya yang sudah menjaga persatuan selama ini.
 
"Mengajak kita untuk mulai ada kesejajaran, otaknya maju hatinya juga maju. Teknologi maju tapi peradaban kita mundur, ini yang tidak boleh. Bangunlah jiwanya baru bangun badannya. Kalau ada kurang kesepahaman harus mengutamakan musyawarah mufakat itulah ciri demokrasi indonesia," kata Budi.
 
Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) diwakili Agustinus Heri Wibowo meminta masyarakat kembali menjalankan kasih sayang sesama umat beragama usai pemilu. Dia tidak mau usai pemilu, sesama umat beragama tidak saling mendoakan kembali.
 
"Berdoa dan membangun peradaban aktif. Kita sendiri aktor mengisi idup ini dengan lebih semangat sehingga dunia dipenuhi cinta kasih," tutur Agustinus.
 
Baca: Kubu Prabowo Minta Situng KPU Disetop
 
Terakhir, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Gumar Gultom meminta pemuka agama membantu menenangkan situasi. Saat ini, peran serta pemuka agama sangat dibutuhkan untuk mengendalikan masyarakat.
 
"Kita juga memiliki persoalan ideologi yang belum tuntas. Peran tokoh agama sangat dibutuhkan untuk mengajak umat menghidupkan esensi beragama bukan hanya sebagai simbol," tutur Gultom.
 
Lebih lanjut, Utusan Khusus Kepresidenan Syafiq Mugni berharap masyarakat segera rukun kembali. Menurut dia, demokrasi hanya persaingan sementara bukan untuk peperangan yang berlarut-larut.
 
"Sayang sekali kalau momentum lima tahunan itu akan menyebabkan keretakan atau perpecahan. Tentu kita sudah memiliki saluran yang kita miliki bersama," jelas dia.

 

(OGI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif