Ilustrasi--Sejumlah menteri kabinet kerja mengikuti Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Jakarta. (Foto: ANTARA/Akbar Nugroho Gumay)
Ilustrasi--Sejumlah menteri kabinet kerja mengikuti Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Jakarta. (Foto: ANTARA/Akbar Nugroho Gumay)

Kabinet Baru Diminta Diisi Sosok Kompeten

Pemilu pilpres 2019
Theofilus Ifan Sucipto • 15 Mei 2019 08:34
Jakarta: Pengumuman hasil Pilpres 2019 kian dekat. Presiden terpilih diminta memberi kursi kementerian kepada sosok yang kompeten di bidangnya.
 
“Merombak kabinet harus memakai rumus right man and the right place,” kata Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies, Jerry Massie di Jakarta, Selasa 14 Mei 2019.
 
Jerry mengatakan di era Presiden Joko Widodo, terjadi empat kali perombakan kabinet. Namun, kata dia, menteri yang diganti kerap kali bukan ahlinya di bidang tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia mencontohkan pengangkatan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan. Jerry menilai hal itu tak tepat lantaran Ignasius bukan ahlinya di bidang ESDM.
 
“Pakar bidang ESDM misalnya politisi dari NasDem, Kurtubi,” ujarnya.
 
Baca juga:Tokoh Agama Ramai-ramai Tolak 'People Power'
 
Selain itu, lanjut Jerry, posisi Luhut Binsar Pandjaitan sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman juga dinilai kurang tepat. Pasalnya, Luhut berlatar belakang perwira TNI.
 
Di sisi lain, dia mengapresiasi beberapa menteri di era kepemimpinan Jokowi. Misalnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, hingga Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti.
 
Jerry mengatakan Susi berhasil menempati posisi itu. Buktinya, kata dia, Susi membakar dan menenggelamkan 488 kapal asing.
 
“Juga ada peningkatkan kualitas ekspor ikan laut dan menciptakan kesejahteraan bagi nelayan,” imbuhnya.
 
Dia menyarankan agar ke depannya posisi menteri diseleksi ketat. Misalnya, kata dia, dengan uji kepatutan dan kelayakan.
 
“Menteri yang diangkat harus diseleksi ketat dengan uji kepatutan dan kelayakan,” pungkasnya.
 

(MEL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif