Warga berfoto di booth kreatifitas tentang ajakan pemilu damai di kawasan Cikini, Jakarta. (Foto: MI/Susanto)
Warga berfoto di booth kreatifitas tentang ajakan pemilu damai di kawasan Cikini, Jakarta. (Foto: MI/Susanto)

Pemilih Milenial Tak Cuma di Media Sosial

Pemilu pemilu serentak 2019
11 Januari 2019 11:59
Jakarta: Direktur Eksekutif Kedaikopi Kunto Adi Wibowo menyebut pemilih milenial tak cuma ada di media sosial. Karenanya mengajak milenial agar datang ke tempat pemungutan suara (TPS) tak cukup hanya dengan sosialisasi via media sosial.

"Mungkin perlu mencari wadah lain selain media sosial. Aktif berpartisipasi di kegiatan sosial atau yang sifatnya artistik dan kreatif, KPU (Komisi Pemilihan Umum) harus datang ke sana," ujarnya melalui sambungan satelit dalam Prime Talk Metro TV, Kamis, 10 Januari 2019.

Kunto menilai sosialisasi untuk berpartisipasi dalam pemilu perlu dilakukan dengan mendatangi kantong-kantong milenial seperti komunitas. Hal ini dinilai lebih efektif ketimbang statis di media sosial.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Menurut Kunto tidak sedikit milenial justru menghindari media sosial lantaran ketegangan pendukung antar-kubu. Bukan mencari informasi, milenial banyak yang menghindari informasi yang disebarkan di media sosial. "Apalagi kalau riuh, gaduh, semakin malas (bermedia sosial). Bahkan sekarang Jokowi dan Prabowo kalah dengan pasangan calon satire dan lelucon Nurhadi-Aldo. Ini jadi tantangan sendiri bagi KPU untuk mendidik pemilih," kata dia.

Senada dengan Kunto calon anggota legislatif Partai NasDem mengungkapkan hal serupa. Jangkauan milenial jauh lebih luas alih-alih hanya yang aktif di media sosial.

Merujuk pada daerah pemilihan tempatnya mencalonkan diri di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pemilih milenial tersebar di pedesaan yang tidak semuanya memainkan media sosial. Bahkan pemilih milenial di dua kabupaten tersebut didominasi oleh ibu rumah tangga.

"Mereka milenial tapi ibu rumah tangga dengan anak. Secara usia milenial tapi dari sisi sosial, ekonomi, dan pendidikan mereka heterogen jadi pendekatannya berbeda," ungkap Tina.

Dilihat dari data kelahiran saja, kata Tina, milenial adalah mereka yang lahir antara 1981-1996 dengan asumsi sudah pernah ikut pemilu. Mereka yang pernah mencoblos dan trauma terhadap politik mungkin akan sulit diyakinkan.

"Tapi bagi pemilih pemula inilah kesempatan penyelenggara dan peserta pemilu untuk mempengaruhi bahwa politik adalah kepentingan bersama," kata dia.





(MEL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi