Analis Politik Gungun Heryanto. (Foto: MI/Arya Manggala)
Analis Politik Gungun Heryanto. (Foto: MI/Arya Manggala)

Strategi Pemenangan Teritorial Sudah Usang

Pemilu pilpres 2019
16 Januari 2019 16:03
Jakarta: Analis Politik Gun Gun Heryanto menyebut peta politik Pilpres 2019 sedikit berubah jika dibandingkan dengan pemilu sebelumnya. Pada 2014 fokus pemenangan pemilu berada di wilayah kunci seperti Jawa dan Sumatera. Namun, pada Pilpres 2019 hal itu sudah usang.
 
"Pada Pilpres 2014, Jawa dan Sumatera itu menyumbang angka sangat tebal. Di Jawa saja 48 persen suara. Sekarang bukan hanya pemenangan teritorial, melainkan juga ceruk khusus seperti pemilih muda," ujarnya dalam Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Rabu, 16 Januari 2019.
 
Menurut Gun Gun ceruk pemilih muda dengan rentang usia 17-40 tahun di Indonesia cukup tebal. Sayangnya, wilayah ini cenderung dikuasai oleh salah satu kubu saja, yakni Prabowo-Sandi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penetrasi pemasaran politik yang dilakukan oleh calon wakil presiden Sandiaga Uno memberikan insentif elektoral bagi kubu penantang. "Pergerakan Sandi di banyak komunitas muda danperempuan milenial cukup mendominasi," kata dia.
 
Bukan tanpa alasan, ceruk pemilih muda yang cukup banyak memberikan simpati kepada kubu penantang tak lain karena tidak semua pemilih mempertimbangkan aspek rasional. Secara umum ada tiga aspek dalam perilaku memilih masyarakat; sosiologis, psikologis, dan rasional.
 
Sosiologis lebih kepada pendekatan primordial, sedangkan psikologis berkutat pada banyak hal. Misalnya kesadaran untuk merasa bahwa pemilu berguna bagi diri sendiri, termasuk derajat kedekatan partai dengan calon.
 
"Terakhir pertimbangan rasional. Itu pun masih banyak kategorinya. Salah satunya ego sentris seperti saya mempertimbangkan program Anda cocok tidak dengan kelompokkami," ungkapnya.
 
Politik pasca-kebenaran
 
Secara umum, tambah Gun Gun, lapisan pemilih rasional di negara mana pun cenderung lebih rendah ketimbang dua aspek lainnya; sosiologis dan psikologis. Hal ini lumrah terjadi terutama di negara dengan sistem demokrasi yang sedang berkembang.
 
Alasan inilah yang kemudian membuat siapa pun memilih menggunakan politik pasca-kebenaran (post-truth) untuk meraih simpati. Bukan cuma di Indonesia, negara lain seperti Brazil dan Rusia lebih dulu membuktikan efektivitas politik pasca-kebenaran untuk memenangkan pemilu.
 
"Terutama strategi kampanye propaganda Rusia; firehosefalsehood itu efektif. Seperti di Brazil, mengontrol narasi menggunakan sarana komunikasi warga. Pemilih terus dibombardir isu yang tidak konsisten. Itu membentuk apa yang disebut 'saya lebih percaya Anda membawa perubahan' padahal tidak demikian," kata dia.
 

 

(MEL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi