Pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin bersalaman dengan pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno usai Debat Pertama Capres & Cawapres 2019, di Hotel Bidakara, Jakarta. (Foto: ANTARA/Sigid Kurniawan)
Pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin bersalaman dengan pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno usai Debat Pertama Capres & Cawapres 2019, di Hotel Bidakara, Jakarta. (Foto: ANTARA/Sigid Kurniawan)

Kubu Prabowo Sebut Debat Perdana Kurang Menarik

Pemilu debat capres cawapres pilpres 2019
18 Januari 2019 11:26
Jakarta: Juru debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi Didi Irawadi menilai debat perdana calon presiden dan calon wakil presiden pada Kamis, 17 Januari 2019, kurang menarik. Bagi dia debat kandidat Pilpres 2019 tak lebih gereget ketimbang debat di negara-negara lain.
 
"Kalau merujuk debat di Amerika Serikat atau Australia itu jauh lebih hidup. Kemarin ada saling menyanggah dan sebagainya tapi waktu sangat membatasi," ujarnya melalui sambungan telepon dalam Metro Pagi Primetime, Jumat, 18 Januari 2019.
 
Didi mengatakan format debat yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dari pemilu ke pemilu cenderung sama. Karena itu ia meminta agar KPU mengemas forum debat dengan lebih menarik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menyebut KPU bisa mencontoh perdebatan sengit yang pernah terjadi pada pilpres AS antara Hillary Clinton dan Donald Trump. Masing-masing kandidat bisa menyampaikan pandangan, visi misi, bahkan menyanggah atau menyerang dalam konteks politik yang terukur.
 
"Memang ada plus minusnya, tentu KPU harus mengaturnya (lagi) agar lebih menarik ke depan meskipun itu tergantung kesepakatan," kata dia.
 
Analis Politik Hamdi Muluk tak sependapat dengan Didi. Ia menilai format debat sudah sesuai dengan iklim politik Indonesia. Publik pun tak melihat ada sesuatu yang kontras dari forum tersebut dan tak perlu mencari perbandingan dengan tempat lain.
 
"Dalam konteks Amerika kan secara ideologi memang sudah berseberangan. Kalau pun kita pancing dengan perbedaan plarform itu karena mereka memang datang dari ideologi berbeda," ungkapnya.
 
Hamdi mengakui format debat relatif sama seperti pada Pilpres 2014, namun hal itu tak masalah. Terpenting adalah bagaimana mengelaborasi apa yang sudah disampaikan menjadi hal-hal yang lebih konkret saat salah satu pasangan calon berkuasa.
 
"Sebenarnya kemarin orang berharap visi misi itu dielaborasi menjadi tatanan yang lebih konkret tidak sekadar normatif apalagi hanya retorik, tapi mungkin karena waktunya tidak cukup, satu menit selesai, jadi ya sudah," jelas dia.
 

 

(MEL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi