TKN Harus Berkaca dari Survei Trump dan Brexit
Ketua Dewan Pengarah TKN-KIK Jusuf Kalla. Foto: MI/Adam Dwi.
Surabaya: Pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo dan Ma'ruf Amin selalu berjaya dalam beberapa survei. Namun, Ketua Dewan Pengarah TKN-KIK Jusuf Kalla meminta tim kampanye tak terlena.
 
"Penting dimaklumi jangan terlalu over optimistis dengan survei. Ada kejadian di 2016, sindrom Brexit dan kemenangan Donald Trump," kata Kalla saat membuka rakernas TKN-KIK di Hotel Empire Palace, Surabaya, Sabtu, 27 Oktober 2018.
 
Kalla mencontohkan Inggris yang memutuskan keluar dari Uni Eropa. Padahal, dalam setiap survei yang dilakukan, 90 persen masyarakat Inggris ingin bertahan sebagai bagian dari Uni Eropa.

Baca: JK Harap Jokowi-Ma'ruf Tak Terbuai Survei


Tapi, saat pemungutan suara hasilnya berbeda. Peristiwa yang sohor dengan nama British Exit pun terjadi.
 
"Kenapa? Karena terlalu optimistis. Karena sudah kira menang, tidak ke tempat pemungutan suara. Generasi muda Inggris itu tidak pergi ke tempat pemungutan suara, yang ke tempat pemungutan suara orang 40 tahun ke atas," jelas Kalla.
 
Anomali serupa juga terjadi di Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2016 yang diperebutkan Hillary Clinton dan Donald Trump. Hillary selalu jadi favorit setiap survei digelar.
 
Tapi Trump jadi pemenang. Salah satu isu yang diangkat Trump adalah kejayaan Amerika Serikat. Kampanye itu bisa meyakinkan pemilih di Amerika Serikat.
 
Selain itu, pendukung Hillary kelewat percaya diri dengan hasil survei. "Kedua karena 90 persen mengatakan Hillary menang jadi ogah-ogahan ke TPS. Itu fenomena 2016," jelas dia.





(FZN)

metro tv
  • OpsiOpsi
  • kick andyKick Andy
  • economic challengesEconomic Challenges
  • 360360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id