Diskusi bertajuk Analisis Hasil Survei Mengapa Bisa Beda? di Jakarta Pusat. Foto: Medcom.id/M Sholahadhin Azhar.
Diskusi bertajuk Analisis Hasil Survei Mengapa Bisa Beda? di Jakarta Pusat. Foto: Medcom.id/M Sholahadhin Azhar.

Dinamika Politik Jadi 'Bumbu' Survei

Pemilu pilpres 2019
M Sholahadhin Azhar • 26 Maret 2019 19:29
Jakarta: Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Ikrama Masloman, menyebut hasil survei yang berbeda-beda dari beberapa lembaga bergantung pada dinamika politik di periode waktu penelitian digelar. Hal ini diungkap mengingat hasil survei sedang disorot.
 
"Survei tidak bisa dibaca dalam jangka waktu yang lama. Jika dilakukan Bulan Maret maka datanya hanya berlaku pada Bulan Maret," kata Ikrama dalam diskusi bertajuk "Analisis Hasil Survei: Mengapa Bisa Beda?" di Jakarta Pusat, Selasa, 26 Maret 2019.
 
Ikrama menuturkan masalah ini merespons survei Divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kompas yang banyak disoal. Menurut Ikrama, survei tak serupa juga ditemui dalam jajak pendapat lain di tataran lain.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Peneliti Alvara Research Center Hasanuddin Ali menambahkan komponen lain juga turut menyumbang perbedaan survei. Salah satunya teknik pengambilan sampel yang berbeda dari tiap lembaga.
 
"Apakah tenaga lapangan kita memahami seratus persen apa yang dimaksud dalam pertanyaan, sehingga responden bisa menjawab dengan benar," kata Ali.
 
Peneliti Litbang Kompas Toto Suryaningtyas mengklarifikasi perbedaan elektabilitas dari survei pihaknya. Jika ditelaah lebih lanjut, ada margin of error 2-3 persen yang membuat jajak pendapat itu tak jauh berbeda dengan survei lain.
 
Hanya saja, kata Toto, persepsi publik terpusat pada turunnya elektabilitas petahana. "(Sehingga) seakan-akan menempatkan kami ada asosiasi keberpihakan tertentu," jelas dia.
 
Pakar psikometri, riset, dan statistik Yahya Umar tak menjadikan perbedaan survei sebuah masalah. Pasalnya, memang jajak pendapat tiap lembaga punya metode sendiri-sendiri yang menyajikan data berbeda.
 
Baca: TKN Tanggapi Positif Hasil Survei Litbang Kompas
 
"Justru, jika lembaga survei berbeda tapi hasilnya sama itulah yang dipertanyakan," tegas Yahya.
 
Sebelumnya, survei terbaru Litbang Kompas pada 22 Februari 2019 - 5 Maret 2019 menunjukkan elektabilitas pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin menurun. Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf berada di angka 49,7 persen, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno 37,4 persen, dan 13,4 persen responden menyatakan rahasia.
 
Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan melibatkan 2.000 responden yang dipilih secara acak melalui pencuplikan sistematis bertingkat di 34 provinsi di Indonesia. Survei memiliki tingkat kepercayaan 95 persen terhadap responden dan margin of error sekitar 2,2 persen.

 

(OGI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif