Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia Khudori --Medcom.id/Husen Miftahudin
Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia Khudori --Medcom.id/Husen Miftahudin

Tantangan Pangan Belum Terjawab dalam Debat Capres

Pemilu debat capres cawapres ketahanan pangan pilpres 2019
Anggi Tondi Martaon • 22 Februari 2019 00:26
Jakarta: Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia Khudori menilai kedua calon presiden (Capres) belum mampu menjawab tantangan di masa mendatang. Padahal, sektor pangan merupakan salah satu penentu pertumbuhan ekonomi nasional.
 
Tantangan pertama yang dihadapi sektor pertanian yakni jumlah populasi Indonesia. Pertumbuhan jumlah penduduk setiap tahun cukup besar.
 
"Kita tahu penduduk kita tiap tahun bertambah 3 sampai 4 juta jiwa, kelas menengah terus bertambah, pendapatan juga terus naik, itu juga menuntut tambahan pangan yang tidak kecil," kata Khudori dalam sebuah diskusi bertema Paska Debat Ke-2 di Upnormal Cafe, Jalan Raden Saleh, Cikini, Jakarta, Kamia, 21 Februari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca juga:Jokowi Kuasai Ketahanan Pangan
 
Tidak hanya itu, Khudori juga melihat kedua Paslon tidak menjelaskan bagaimana menjamin kualitas, produksi, distribusi dan ketersediaan stok. Selain itu, upaya kemudahan akses bagi masyarakat mendapatkan pangan juga tak terjabarkan.
 
"Kemarin enggak muncul, bagaimana pasangan mendesian ke depan agar pangan-pangan pokok bisa dipenuhi dari dalam negeri, bukan dari impor seperti sekarang," ungkap dia.
 
Poin lain yang tidak diangkat oleh kedua Paslon yaitu produktifitas petani. Khudori menyebutkan saat ini jumlah banyak petani masuk kategori usia senja.
 
"Kedua, kita tahu petani kita di ujung senja. Sekitar 30 persen umurnya 54 tahun, jadi diujung produktif lah," sebut dia.
 
Baca juga:Debat Kedua, Prabowo Hanya Menguliti Kekurangan Jokowi
 
Terakhir, kedua Paslon juga tidak menyinggung secara rinci terkait kesejahteraan petani. Petani akan ogah-ogahan memproduksi pangan jika tidak menguntungkan.
 
"Petani tidak bisa terus produksi kalau dia tidak untung dengan usahanya. Petani tidak akan happy dengan usahanya," kata dia.
 
Khudori mengakui jika setiap pemerintahan menargetkan meningkatkan kesejahteraan petani. Namun, hingga saat ini belum ada implementasi nyata di lapangan.
 
"Termasuk pemerintahan Jokowi, kalau kita memakai acuan cenderung stagnan, dari Oktober 2014 sampai Oktober 3018 hanya bergerak satu poin," sebut dia.
 

(BOW)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif