Ilsutrasi. Medcom.id M. Rizal
Ilsutrasi. Medcom.id M. Rizal

Hoaks Jadi Alat Politik untuk Membentuk Opini Publik

Pemilu pilpres 2019 pemilu serentak 2019
08 Januari 2019 14:52
Jakarta: Pengamat politik dari Universitas Presiden Muhammad A S Hikam menilai kabar bohong atau hoaks sengaja diciptakan untuk menguasai dan mengontrol narasi publik. Tujuannya untuk memobilisasi dukungan politik pada pemilu dan pilpres.
 
Dia menambahkan, menguasai narasi publik tak kalah penting dibandingkan dengan kontrol dan penguasaan atas sumberdaya ekonomi serta kekuasaan politik.
 
"Itu menjelaskan mengapa produksi dan reproduksi narasi menjadi wahana perebutan dan pertarungan tersendiri dalam kontestasi Pileg dan Pilpres 2019. Begitu pentingnya sehingga penyebaran hoaks pun jadi strategi," kata Hikam, Selasa, 8 Januari 2019.

Baca: Kubu Jokowi Terkepung Hoaks

Hikam mengungkapkan, hoaks menjadi komoditas penting dalam ekonomi politik narasi dan kualitasnya akan terus dipercanggih. Kemudian hoaks akan dinormalisasi dalam wacana dan praktis politik.
 
"Ia dianggap tak punya kaitan dengan etik atau moral, hanya alat seperti uang untuk memperngaruhi," jelasnya.
 
Dia menduga, hoaks yang marak di pilpres merupakan gerakan sistematis. Alasannya, hoaks terus terjadi selama masa kampanye berlangsung.
 
"Harus diinvestigasi dengan cermat. Tetapi indikasinya memang mengarah ke sana (gerakan sistematis), sebab berkali-kali terjadi," ujarnya.
 
Hikam menyarankan masyarakat menolak atau mengklarifikasi segala hoaks yang ada. Sebab, melegitimasi hoaks dalam narasi publik dengab dalih seperti penyeimbangan informasi atau pemberian alternatif fakta sama saja dengan reproduksi berita bohong.
 
Sekretaris Badan Pemenangan Pemilu DPP PSI Andi Saiful Haq sebelumnya menyebut ada upaya sistematis untuk mendegradasi kredibilitas Komisi Pemilihan Umum. Setelah beredar kabar hoaks pencoblosan surat suara, kini ada upaya calon wakil presiden Sandiaga Uno menggiring opini dengan menyebut masyarakat meragukan KPU.
 
"Hasil KPU yang meragukan itu adalah meloloskan tukang bohong sebagai capres dan cawapres seperti Prabowo dan Sandi Uno. Itupun karena dalam penetapan capres dan cawapres tidak ada tes kebohongan," kata Andi.
 
Sebelumnya, Sandiaga mengaku menerima banyak keluhan masyarakat saat kunjungannya ke beberapa daerah di Indonesia. Menurut Sandi, masyarakat mulai mempertanyakan kejujuran kinerja KPU.
 
"Banyak sekali masyarakat menanyakan ke saya, ada satu ketidakpercayaan baru di antara masyarakat, apakah penyelenggara pemilu ini bisa jujur dan adil," kata Sandiaga.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?





 
(FZN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi