Konsistensi Pemikiran dan Kesederhanaan Bung Hatta Sulit Ditiru
Wisatawan memerhatikan berbagai koleksi benda-benda bersejarah di Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta di Bukittinggi, Sumatera Barat. (Foto: MI/Rommy Pujianto)
Jakarta: Ada banyak hal yang membuat sosok Wakil Presiden RI pertama Mohammad Hatta berbeda dan tidak bisa disamakan dengan orang lain. Beberapa di antaranya adalah konsistensi pemikiran dan kesederhanaan. 

Sejarawan Bonnie Triyana menilai cukup mudah jika ingin mengindentifikasikan diri seperti Bung Hatta atau Bung Karno jika hanya dari penampilan. Tetapi mengidentikkan apalagi menyejajarkan diri dengan tokoh atau negarawan jauh lebih sulit.


"Menggunakan identifikasi dirinya dengan Bung Hatta untuk meyakinkan orang bawa dia mirip dan bisa sama agar orang bisa memberikan simpati dalam bentuk pilihan segala macam, ini agak repot," ujarnya dalamMetro Pagi Primetime, Sabtu, 27 Oktober 2018.

Menurut Bonnie, satu kelompok tidak bisa menggunakan seorang tokoh apalagi tokoh tersebut merupakan penggagas bangsa dan negara sebagai komoditas politik. Mengikuti pemikiran atau menjadi pengagum masih mungkin tetapi ketika hal itu dijadikan sebagai komoditas politik, tidak pantas.

"Repotnya, sejauh mana dia bisa mempertanggungjawabkan omongannya sebagai bahan dagangan dia. Apa sanggup hidup enggak terbeli sepatu, enggak terbayar listrik, menolak tawaran menjadi komisaris saat pensiun? itu yang dilakukan Bung Hatta," kata dia. 

Bonnie mengatakan menjadi Bung Hatta tidak cukup hanya dengan merelakan diri untuk hidup sederhana. Pengalaman pahit Bung Hatta pada masa kemerdekaan seperti diasingkan di daerah endemis malaria atau ditahan tanpa berhubungan dengan orang lain adalah pengalaman yang tidak akan bisa orang lain rasakan. 

Belum lagi soal konsistensi pemikiran untuk memutuskan hidup sederhana kendati lahir dari keluarga yang tidak sembarangan. Memiliki cita-cita untuk mengentaskan kemiskinan melalui koperasi hingga dinobatkan sebagai bapak koperasi Indonesia harus mampu dikuasai untuk bisa 'sama' dengan sosok Bung Hatta.

"Bagi orang segenerasi Bung Hatta menjadi sederhana, bersahaja itu pilihan hidup. Bahkan memilih tidak bekerja di pemerintahan saat itu juga pilihan. Dia ahli ekonomi bisa saja kerja di pemerintahan tapi dia tidak. Itu pilihan," pungkasnya.





(MEL)

metro tv
  • OpsiOpsi
  • kick andyKick Andy
  • economic challengesEconomic Challenges
  • 360360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id