Ilustrasi terorisme - Medcom.id.
Ilustrasi terorisme - Medcom.id.

JAD Berpotensi Besar 'Jihad' dalam Momen People Power

Pemilu terorisme pilpres 2019 pemilu serentak 2019
Candra Yuri Nuralam • 15 Mei 2019 11:23
Jakarta: Jamaah Ansharut Daulah (JAD) diprediksi bakal kembali beraksi dengan memanfaatkan momen penggerakan massa atau people power. Kelompok itu dikenal sangat membenci pemilu.
 
"Mereka beraliran Wahabi Takfiri yang memvonis siapa pun yang ikut pemilu sebagai kafir," kata pengamat terorisme Al Chaidar kepada Medcom.id, Rabu, 15 Mei 2019.
 
Chaidar menyebut potensi JAD melakukan peledakan usai pemilu sangat besar. Apalagi, aliran JAD mengajarkan membunuh pelaku intikhobat (pemilih dalam pemilu) merupakan hal utama.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Rencananya mereka sudah membuat plot untuk menyerang acara-acara kampanye, debat capres, dan juga tanggal 22 Mei sebagai momentum untuk menyerang intikhobat," ujar Chaidar.
 
Chaidar menilai momen people power merupakan momen paling pas bagi JAD. Selain ada pedemo yang merupakan peserta pemilu, ada juga polisi yang menjadi musuh bebuyutan mereka.
 
"Momentum people power 22 Mei nanti adalah sebuah peluang bagi mereka untuk menyerang polisi yang sudah mereka targetkan sambil menyamar menjadi demonstran dengan membawa tas ransel berisi bom dan senjata tajam," tutur Chaidar.
 
(Baca juga:Tokoh Agama Ramai-ramai Tolak 'People Power')
 
Chaidar memprediksi mereka akan memanfaatkan jarak kedekatan antara polisi dan demonstran di lokasi demo di depan kantor Bawaslu maupun KPU. Di saat itulah kemungkinan peledakan akan terjadi.
 
JAD sudah beberapa kali mencoba melakukan penyerangan sejak hari pencoblosan. Namun, kata Chaidar, perjuangan mereka selalu berhasil dihalau pihak kepolisian.
 
Momen people power ini akan menjadi peluang besar mereka melakukan serangan. Chaidar berharap kepolisian lebih sigap melakukan pengamanan terhadap kelompok tersebut.
 
"Selama ini serangan-serangan kelompok teroris JAD ke TPS selama pemilu dan juga kampanye sudah bisa dipatahkan oleh pihak polisi secara preemptive strike. Tapi untuk 22 Mei ini apakah akan bisa dilakukan preevemptive strike atau tidak, itu tergantung kesiapan polisi," tutur Chaidir.
 
Sebelumnya, Polisi menduga kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD) bakal memanfaatkan momentum Pemilu 2019 melancarkan aksi. Apalagi, beberapa tokoh politik sempat memunculkan wacana penggerakan massa jika hasil pemilu tak sesuai keinginan mereka.
 
"Rencana (JAD) yang dilakukan 2019 ini memanfaatkan momentum pemilu. Apabila ada people power di Jakarta, mereka bisa melakukan aksi terorisme yang melibatkan fatalitas, banyak korban meninggal," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa, 7 Mei 2019.
 
Kelompok JAD disebut bisa membaca dinamika masyarakat. Ia mencontohkan aksi terorisme yang terjadi di Suriah, Irak, dan Malawi. JAD yang merupakan dalang dari aksi itu menunggu kericuhan terjadi sebelum melancarkan aksi.

 

(REN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif