Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini. Foto: Medcom.id/Siti Yona Hukmana.
Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini. Foto: Medcom.id/Siti Yona Hukmana.

Perludem: Pemilu 2019 Bisa Jadi Tonggak Bersejarah

Pemilu pilpres 2019 pemilu serentak 2019
M Sholahadhin Azhar • 16 April 2019 08:06
Jakarta: Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini mengkritisi bagaimana pemilihan umum 2019 digelar. Dalam pesta demokrasi serentak ini, banyak yang perlu dibenahi.
 
"Pemilu 2019 ini milestone (tonggak bersejarah) penting dalam demokrasi kita. Bekerja dengan demokrasi itu memang butuh kesabaran," kata Titi di Jakarta, Senin, 15 April 2019.
 
Menurutnya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara harus memperbaiki kekurangan dari pemilu kali ini. Titi juga meminta semua pihak terkait ikut urun rembug dan KPU tak bisa sendirian memperbaiki.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


DPR juga diingatkan agar tak lepas tangan, karena proses demokrasi merupakan tanggung jawab bersama. Jika menyerah, lanjut dia, status quo atau stagnansi akan kembali menghinggapi.
 
"Kita harus perbaiki, iktikad baik dari pembuat UU juga harus ada. Jangan sudah tahu kurangnya di mana tapi tetap tak ada koreksi," ujar Titi.
 
Saat ini, Titi menyebut sistem pemilu di Indonesia sudah dikawal secara komprehensif. Dari sisi sengketa pemilu misalnya, ada Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengakomodasi hal tersebut.
 
Namun selain kelebihan, ada juga kekurangan. Contohnya terkait presidential threshold (ambang batas presiden) yang menekan partisipasi kontestan pemilu presiden. Hal itu harus dipikirkan ulang, karena dampaknya seperti saat ini, timbul polarisasi yang tajam di tengah masyarakat.
 
Hal itu kata dia berdampak buruk. Masyarakat cenderung lebih emosional karena dipengaruhi hal tersebut. Padahal, banyak informasi terkait kontestan yang bisa menjadi bahan telaah.
 
Namun karena polarisasi yang tajam, maka penelaahan dikesampingkan. "Di mana emosi lebih penting daripada menggunakan data fakta untuk membuat keputusan," ujar Titi.
 

(MBM)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif