Komisioner KPU Hasyim Asy'ari. Foto: Medcom.id/Dian Ihsan Siregar.
Komisioner KPU Hasyim Asy'ari. Foto: Medcom.id/Dian Ihsan Siregar.

KPU Persoalkan Dasar Klaim Kemenangan Prabowo

Pemilu Sidang Sengketa Pilpres 2019
Faisal Abdalla • 14 Juni 2019 17:51
Jakarta: Komisi Pemilihan Umum (KPU) mempertanyakan dasar klaim kemenangan kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebesar 52 persen pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Hal itu didalilkan kubu Prabowo dalam sidang perdana sengketa perselisihan hasil pemilu (PHPU) di Mahkamah Konstitusi (MK).
 
"Petitum itu kan permohonan boleh-boleh saja, tapi pertanyaannya atas dasar apa?" kata Komisioner KPU Hasyim Asyari di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat, 14 Juni 2019.
 
Dalam dalil permohonanya, kubu Prabowo menyebut ada 22.034.193 data pemilih siluman yang dimanfaatkan menggelembungkan suara pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Pemilih siluman itu berasal dari 17,5 juta pemilih tak wajar yang sudah sempat dipermasalahkan Prabowo ditambah 5,7 juta pemilih dalam daftar pemilih kusus (DPK) yang ditambahkan pada hari pemungutan suara.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kubu Prabowo menilai perolehan suara pilpres yang benar ialah pasangan nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf 63.573.169 (48 persen) dan Prabowo-Sandi sebesar 68.650.239 (52 persen). Prabowo menuntut MK memerintahkan KPU menetapkan dirinya sebagai calon presiden terpilih.
 
Baca: Sandiaga Pantau Sidang Gugatan Via Televisi
 
Hasyim meminta kubu Prabowo membeberkan dengan jelas dan detail perselisihan suara tersebut. Termasuk di mana penggelembungan suara itu terjadi dan berapa pastinya jumlah suara yang digelembungkan.
 
"Itu selisih suaranya di mana? Apakah di rekap provinsi? Atau tingkat rekapitulasi kabupaten kota? Atau di TPS (tempat pemungutan suara)? Kalau TPS, TPS mana? Itu juga dalam pandangan kami setelah kami buka belum jelas juga locus atau tempat kejadian di mana," beber Hasyim.
 
Hasyim mempersilakan kubu Prabowo mendalilkan apa saja dalam petitumnya. Namun, dia menekankan yang terpenting pembuktiannya. "Tapi
 
kalau banyak dalil, tapi tidak bisa membuktikan kan konyol," ucap Hasyim.
 

(OGI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif