Kerusakan Kronis Akibat Hoaks di Pemilu 2019
Ilustrasi . Doc: Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya.
Jakarta: Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) mewaspadai masifnya penyebaran berita hoaks menjelang Pemilu 2019. Menjelang tahun politik, Mafindo mencatat berita hoaks didominasi berita-berita seputar politik.
 
Mafindo mencatat setidaknya ada enam bahaya penyebaran berita hoaks. Pertama, berita hoaks mengancam kredibilitas penyelengara pemilu seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).
 
Kedua, berita hoaks mengancam menurunkan kualitas pemilihan umum. Ketiga, berita hoaks merusak rasionalitas pemilih.
 
"Keempat, menimbulkan konflik sosial, peningkatan eskalasi ujaran kebencian, provokasi, agitasi dan propaganda hingga doxingdan persekusi," kata peneliti Mafindo Heni Mulyati dalam diskusi 'Kampanye Cerdas Berbasis Data' di Populi Center, Jakarta Barat, Jumat, 26 Oktober 2018.

Baca: Tangkal Hoaks dengan KUHP


Kelima, dampaknya bisa menjadi blueprint atau cetak biru pada gelaran pemilu-pemilu berikutnya. Kata Heni, gejala dampak berita hoaks ini sudah muncul sejak Pemilu 2014. Puncaknya, saat gelaran Pilkada DKI 2017.
 
"Keenam, tentu menimbulkan disintegrasi sosial," ujarnya.
 
Mafindo mencatat penyebaran berita hoaks menurun dibanding 2017, namun angkanya masih tinggi. "Hingga September 2018 tercatat ada 107 berita hoaks. Atau rata-rata 9,6 berita hoaks per bulan," kata Heni.
 
Heni mengungkapkan, berita hoaks masih didominasi berita-berita seputar politik sebanyak 58 persen. Disusul berita hoaks soal isu agama sebesar 7,39 persen.





(FZN)

metro tv
  • OpsiOpsi
  • kick andyKick Andy
  • economic challengesEconomic Challenges
  • 360360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id