Komisioner KPU Hasyim Asy'ari. Foto: Medcom.id/Dian Ihsan Siregar.
Komisioner KPU Hasyim Asy'ari. Foto: Medcom.id/Dian Ihsan Siregar.

Peserta Pemilu Wajib Tampil Meyakinkan demi Tekan Golput

Pemilu pilpres 2019
Dian Ihsan Siregar • 24 Januari 2019 20:59
Jakarta: Komisi Pemilihan Umum (KPU) berharap kedua pasangan calon presiden tampil meyakinkan dalam debat untuk menekan golongan putih (golput). Mereka diminta bisa merebut suara rakyat dengan mengutarakan program kerja sejelas mungkin.
 
"Seruan itu tantangannya kepada peserta pemilu, supaya tampil lebih meyakinkan kepada pemilih, agar nanti pemilih hadir memilih untuk memilih peserta pemilu itu," kata Komisioner KPU Hasyim Asy'ari di Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Jakarta, Kamis, 24 Januari 2019.
 
Hasyim mengakui banyaknya anggota lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang mengharapkan masyarakat golput karena menganggap belum ada sosok pemimpin menyakinkan. Untuk itu, peserta pemilu harus memberikan yang terbaik pada pemaparan di debat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut dia, jika pemaparan di debat amat penting karena menjadi patokan masyarakat dalam melihat pemerintahan yang ditawarkan para kandidat. Penjabar saat debat menjadi janji yang direalisasikan pada saat mereka terpilih nantinya.
 
"Jadi yakinkan semua pemilih, agar mereka yakin untuk memilih pasangan," jelas dia.
 
Dia pun berharap target pemilih mencapai 77,5 persen bisa tercapai. Angka itu pun dianggap cukup realistis di negara demokrasi seperti negara Indonesia.
 
Sementara itu, Ketua KPU Arief Budiman mengaku target 77,5 persen partisipasi pemilu masih cukup besar untuk negara demokratis. Namun, dia optimistis target itu bisa diraih.
 
"Jadi, dia menggunakan hak memilih dan tidak memilih itu dengan dengan kesadaran penuh, bukan karena intimidasi. Bukan karena dilarang, bukan karena uang itu," kata Arief.
 
Baca: 300 Ribu Jiwa di Sumbar Terancam Tak Bisa Ikut Pemilu
 
Di sisi lain, Arief menilai partisipasi mencapai 100 persen dengan dua kemungkinan, yakni negara itu mewajibkan pemilu dan negara yang otoriter. "Kalau di tempat kita, pemilu itu hak untuk memilih bukan wajib untuk memilih," ucap dia.
 
Arief mengungkap, di negara yang mewajibkan partisipasi pemilu, angka pemilih bisa mencapai 90 persen. Namun, meski wajib, ada pula orang yang enggan menggunakan hak pilihnya.
 
"Iya, 75 persen itu dalam pengalaman negara-negara demokratis sangat bagus sebetulnya," sebut Arief.
 


 

(OGI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi