Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Foto: MI/Antara
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Foto: MI/Antara

3 Tantangan Demokrat pada Pemilu 2019

Pemilu pemilu serentak 2019
Kautsar Widya Prabowo • 10 November 2018 14:31
Jakarta: Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono menilai Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 jauh lebih berat dibandingkan pemilu 2014. Salah satu penyebabnya yakni aturan ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold.
 
SBY berpendapat, aturan tersebut tidak tepat. Menurut dia, seharunya, jika pilpres dan pileg dilakukan serentak, maka ambang batas pencalonan presiden harus nol persen.
 
"Dengan PT 20 persen itu, menggunakan suara lima tahun lalu kemungkinan partai-partai lebih kecil untuk memajukan kadernya menjadi capres dan cawapres jadi tertutup," ujarnya dalam pembekalan Caleg Partai Demokrat, di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Sabtu, 10 November 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Aturan tersebut tercantum dalam pasal 222 Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. Dalam pasal tersebut dinyatakan, partai politik atau gabungan parpol harus memiliki 20 persen kursi DPR atau 25 persen suara sah nasional pada pemilu 2014 lalu untuk bisa mengusung pasangan capres dan cawapres.
 
Selain itu, tantangan kedua adalah partai politik yang memiliki capres dan cawapres sendiri memiliki peluang yang lebih besar untuk meraup suara. Seperti halnya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang mengusung Joko Widodo dan Partai Gerindra yang mengusung Prabowo Subianto.
 
"Suara Kedua partai politik itu meningkat tajam, sebaliknya partai politik yang tidak punya capres dan cawapres suaranya menurun, anjlok itu realistis," imbuhnya.
 
Lebih lanjut, tantangan yang terakhir adalah sistem perhitungan suara yang baru yaitu, sainte lague, yang memungkinan peroleh suara PDI Perjuangan bersama Jokowi dan Gerindra bersama Prabowo kembali diuntungkan. Hal tersebut tercermin dari survei-survei akhir ini.
 
Baca:SBY Anggap Wajar Suhu Politik yang Memanas
 
"Namun Partai Demokrat tidak boleh melawan realistis, jangan melawan masalah, mari kita carikan jalan keluarnya," tuturnya.
 
Perlu diketahui, metode sainte league mengkonversi suara menjadi kursi di DPR. Partai politik yang memenuhi ambang batas sebanyak empat persen dari jumlah suara, akan dibagi dengan bilangan pembagi satu yang diikuti secara berurutan dengan bilangan ganjil tiga, lima, tujuh dan seterusnya.
 

(DMR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi